Bus Putra Pelangi yang ditumpangi keluarga Jamal terjebak banjir di perkebunan sawit, Kamis subuh. Awak bus tetap berusaha mencari makanan bagi penumpang meski air setinggi dua meter.(Foto Dok. Ist).
(Feature, seperti diceritakan Jamal pada Minakonews.com)
*Awal Perjalanan*
Tanggal 22 November 2025, kami berangkat menuju Lhokseumawe. Lima orang dalam rombongan: saya, Mar (istri), Lia (anak), Diky (mantu), dan Shafa (cucu berusia 2 tahun). Perjalanan dua hari dua malam penuh hujan, meski tidak lebat, cukup membuat perjalanan dengan mobil terasa berat.
Alhamdulillah, Senin dini hari pukul 12.30 kami tiba dengan selamat di Lhokseumawe, sempat beristirahat semalam di Tarutung sebelum melanjutkan aktivitas.
*Rencana Pulang*
Setelah dua malam beristirahat, kami memutuskan kembali ke Padang pada Selasa malam, 25 November, menggunakan angkutan umum. Hujan tak pernah berhenti sejak kami tiba hingga hari keberangkatan.
Di loket bus, agen meyakinkan bahwa perjalanan menuju Medan tetap ada, meski kursi mungkin tidak sesuai tiket. Namun, anak dan menantu sempat melarang karena mendapat kabar ada pohon tumbang di wilayah Idi. Informasi itu dibenarkan oleh agen, tetapi kami tetap melanjutkan perjalanan dengan harapan hanya satu titik yang bermasalah.
*Perjalanan yang Tertahan*
Sekitar pukul 00.30, bus berangkat. Kursi memang tidak sesuai tiket, tapi kami masih bisa duduk berdekatan. Tak lama, bus melambat: pohon tumbang di Idi belum selesai dievakuasi. Jalan sudah mulai tergenang air, bus tetap merayap.
Rabu pagi, memasuki Peureulak, air semakin dalam. Mobil pribadi banyak yang mencari tempat aman. Sopir menawarkan pilihan: lanjut atau kembali. Penumpang sepakat untuk lanjut, kami ikut diam mengikuti suara terbanyak.
Memasuki Langsa, genangan makin tinggi. Sopir kembali menawarkan pilihan, mayoritas tetap memilih lanjut. Kami hanya bisa pasrah.
*Kuala Simpang – Titik Penahanan*
Sekitar pukul 16.00, bus tiba di Kuala Simpang. Lagi-lagi terhenti karena banyak pohon tumbang. Setelah beberapa jam, menjelang magrib, bus kembali berjalan perlahan.
Namun Kamis subuh, bus benar-benar terjebak banjir dan longsor di area perkebunan sawit. Perjalanan yang biasanya hanya 4 jam, kini sudah lebih dari 24 jam.
*Gelap dan Sunyi di Tengah Banjir*
Sejak malam itu, kami tak lagi bisa menikmati cahaya lampu. Gelap total menyelimuti bus, hanya sesekali cahaya dari ponsel penumpang yang dinyalakan untuk memeriksa sinyal—yang sudah terputus sejak Rabu tengah malam. Suasana hening, hanya suara hujan dan gemericik air yang terus naik perlahan.
*Sabtu Siang: Udara Segar yang Lama Dinanti*
Baru pada Sabtu siang, ketika air tinggal setinggi lutut orang dewasa, kami mulai bisa keluar dari bus. Rasanya seperti terbebas sejenak dari penjara gelap. Udara segar yang selama beberapa hari tak bisa kami hirup terasa begitu melegakan.
Di luar, penumpang mencari tempat untuk sekadar buang air, kebutuhan sederhana yang tertahan berhari-hari.
*Solidaritas Awak Bus*
Satu hal yang sangat menguntungkan bagi kami: tidak pernah kekurangan makanan. Awak bus Putra Pelangi tetap berusaha mencari nasi bungkus, meski harus menembus air setinggi dua meter, pagi maupun malam. Doa kami untuk mereka, semoga Allah mudahkan rezeki dan urusan mereka.
*Perjalanan Menyusuri Sawit*
Minggu pagi, air mulai surut hingga hanya setinggi lutut. Kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke Medan dengan cara apapun. Jam 07.30, kami berempat bersama balita mulai berjalan kaki meninggalkan bus.
– 300 meter menembus air → naik ojek motor sejauh 3 km
– Jalan kaki melewati longsor sepanjang 200 meter
– Sambung lagi naik ojek motor sejauh 8 km melewati perkebunan sawit hingga perbatasan Aceh–Sumut
Sekitar pukul 09.00, sinyal HP baru muncul satu titik. Dengan terputus-putus, kami berhasil menghubungi keluarga di Lhokseumawe.
*Menuju Medan*
Dari perbatasan kami naik bus menuju Medan. Namun pintu tol Pangkalan Berandan ditutup. Alternatif lewat Tanjung Pura pun gagal karena banjir setinggi pinggang orang dewasa. Akhirnya kami menyewa truk pasir dari Pangkalan Berandan. Alhamdulillah, ada sopir yang bersedia. Kami naik bersama penumpang lain dan empat motor. Tiga jam lebih truk melaju menembus banjir, hingga pukul 16.00 kami tiba di pinggiran Kota Medan.
Perjalanan dilanjutkan dengan ojol menuju loket Putra Pelangi untuk mengklaim tiket yang sudah dibayar. Meski tidak dikembalikan penuh, kami tetap berterima kasih atas pelayanan mereka.
*Akhirnya Pulang*
Karena hari sudah sore, kami menginap semalam di Medan. Senin sore, kami melanjutkan perjalanan ke Padang dengan pesawat pukul 17.20. Namun jadwal molor, baru pukul 22.30 pesawat berangkat. Tepat pukul 00.15, kami tiba di rumah dengan selamat.
*Penutup*
Perjalanan panjang penuh ujian ini meninggalkan kesan mendalam: banjir, longsor, gelap tanpa listrik, hingga berjalan kaki menembus sawit. Namun juga ada solidaritas, doa, dan perjuangan bersama.
Sekali lagi, doa kami untuk awak bus Putra Pelangi yang telah membantu kami bertahan. Semoga Allah melapangkan rezeki dan memudahkan segala urusan mereka.
Penulis: d®amlis
Editor. : Red. Minakonews.com
