Rektor Unand, Eva Yonnedi bersalaman dengan Wakil Bupati Solok, H. Candra yang optimis (Dok. Unand)
Kabupaten Solok (Sumbar), MINAKONEWS.COM – 23 Agustus 2025. Tiga hari setelah penandatanganan nota kesepahaman antara Pemerintah Kabupaten Solok dan Universitas Andalas (Unand), publik mulai bertanya: apakah kerja sama ini akan benar-benar berdampak, atau hanya menjadi deretan dokumen seremonial yang berakhir di rak arsip?
MoU yang diteken pada 20 Agustus 2025 di Gedung Rektorat Unand menjanjikan sinergi antara akademisi dan birokrat untuk mengembangkan sektor pertanian dan pariwisata berbasis nagari. Namun, investigasi MinakoNews menemukan bahwa tantangan implementasi di lapangan jauh lebih kompleks daripada yang terlihat dalam pidato-pidato resmi.
Janji Besar, Detail Kecil
Dalam dokumen kerja sama, disebutkan bahwa Unand akan mengirim tim riset dari Fakultas Pertanian, Fateta, dan Pariwisata untuk mendampingi Pemkab Solok. Fokusnya: pemanfaatan lahan tidur, pengembangan desa wisata agro, dan pelatihan SDM lokal.
Namun, hingga hari ini:
– Belum ada jadwal pasti untuk penerjunan tim riset
– KKN tematik baru direncanakan Oktober, tanpa peta lokasi final
– Dinas terkait di Solok belum menyusun roadmap teknis pasca-MoU
– Tidak ada alokasi anggaran khusus dari APBD untuk mendukung program ini
Potensi yang Terancam Gagal
Solok memiliki potensi besar: dataran tinggi yang cocok untuk hortikultura, danau yang bisa dikembangkan sebagai ekowisata, serta budaya nagari yang unik. Tapi tanpa eksekusi yang terukur, kerja sama ini berisiko menjadi “MoU tanpa muatan”.
Salah satu pejabat di Dinas Pertanian Solok yang enggan disebutkan namanya menyebut, “Kami belum tahu siapa PIC dari pihak kampus. Kalau tidak segera ditindaklanjuti, ini bisa jadi proyek macet seperti yang dulu-dulu.”
Rektor Baru, Harapan Baru?
Dengan kepemimpinan baru di Unand—Dr. Efa Yonnedi menggantikan Prof. Yuliandri sejak November 2023—ada harapan bahwa pendekatan kerja sama akan lebih pragmatis dan berdampak. Namun, tantangan koordinasi lintas fakultas dan birokrasi kampus tetap menjadi hambatan klasik.
Sementara itu, Wakil Bupati Solok, H. Candra, tetap optimis. “Kami akan kawal ini sampai ke lapangan. Kami tidak ingin kerja sama ini hanya jadi headline sesaat.”
Kesimpulan Awal
Kerja sama Solok–Unand bisa menjadi model pembangunan berbasis riset yang inklusif. Tapi tanpa komitmen anggaran, tim teknis, dan pengawasan publik, MoU ini berisiko menjadi bagian dari tradisi panjang seremoni tanpa substansi.(d®amlis).
Penulis : d®amlis
Editor. : Red minakonews
