Detektor gempa Versi AI (Gambar : AI)
MINAKONEWS.COM – 1. Awal Langkah : Inspirasi dari Jepang (1999–2007)
Segalanya bermula dari pengamatan terhadap teknologi Jepang yang dibawa ke Indonesia untuk mitigasi bencana longsor. Tim peneliti UGM mulai merancang sistem sederhana berbasis sensor manual untuk mendeteksi pergerakan tanah dan anomali geologi. Fokusnya masih pada longsor, tapi benih riset gempa sudah tertanam.
2. Gama EWS: Sistem Peringatan Dini Lokal (2007–2015).
UGM meluncurkan Gama Early Warning System (Gama EWS), alat peringatan dini bencana berbasis sensor lokal. Awalnya digunakan untuk longsor, alat ini berkembang pesat dan mulai dipasang di desa-desa rawan bencana. Sensor seperti tilt meter, ultrasonic water level, dan extensometer jadi andalan. Gama EWS generasi ke-6 bahkan sudah pakai tenaga surya dan koneksi nirkabel.
3. Digitalisasi dan Kolaborasi Nasional (2015–2020).
Gama EWS menjelma jadi sistem nasional. UGM bekerja sama dengan BNPB, BPBD, dan mitra internasional untuk memperluas jangkauan ke lebih dari 200 desa di 30 provinsi. Sistem ini mulai terintegrasi dengan server digital dan aplikasi pemantauan daring.
4. Prediksi Gempa: Terobosan Baru (2021).
UGM mulai mengembangkan sistem deteksi gempa berbasis triangulasi dan algoritma prediktif. Tim Prof. Sunarno menciptakan alat yang mampu memprediksi gempa 3–7 hari sebelum kejadian. Salah satu keberhasilan nyata adalah prediksi gempa di Toli-Toli, Sulawesi Tengah, tiga hari sebelum terjadi. Teknologi ini menggunakan sensor gas radon, perubahan air tanah, dan IoT.
5. Era AI dan Kabel Optik: DAS (2025).
UGM berkolaborasi dengan Telkom Indonesia untuk mengembangkan Distributed Acoustic Sensing (DAS), sistem deteksi gempa berbasis kabel optik bawah laut. Teknologi ini menggunakan AI untuk mengenali gelombang primer (P-wave) sebelum gempa utama terjadi. Data dikirim secara real-time ke pusat pemantauan dan bisa diakses masyarakat lewat aplikasi.
Sistem ini dinilai cocok untuk wilayah pesisir seperti Sumatera Barat, Nusa Tenggara, dan Maluku yang berada di jalur megathrust. DAS menjadi tonggak baru dalam mitigasi bencana berbasis teknologi sipil dan komunitas.
Harapan untuk Ranah Rawan Gempa
UGM telah membuktikan bahwa kampus bukan sekadar ruang akademik, tapi juga laboratorium hidup untuk keselamatan masyarakat. Dari alat manual hingga sistem AI, riset ini menunjukkan konsistensi dan keberpihakan pada daerah rawan bencana.
Dengan dukungan pemerintah, komunitas, dan mitra internasional, teknologi ini diharapkan bisa diterapkan di lebih banyak wilayah, termasuk desa-desa di Sumatera Barat yang belum memiliki sistem mitigasi gempa yang memadai.(FA).
Penulis. : FA
Editor. : Red minakonews
