Donna R. Joesoef
Oleh: Donna R. Joesoef
Apabila daun kayu telah bergoyang, menandakan angin telah lewat.”_
Pepatah Minang itu kembali terasa relevan di penghujung Agustus 2025. Di tengah riuhnya demonstrasi yang melanda Jakarta, Makassar, Jogja, hingga Mataram, masyarakat Sumatera Barat pun mulai bertanya: ke mana arah negeri ini dibawa?
Gelombang aksi yang berlangsung sejak 25 Agustus bukan sekadar kerumunan massa. Ia adalah cerminan dari retaknya kepercayaan publik, ketegangan elite, dan harapan rakyat yang belum sepenuhnya terpenuhi. Di Jakarta, halte Transjakarta dibakar, pos polisi dirusak, dan gas air mata memenuhi udara malam. Di Makassar, kantor DPRD Sulsel hangus terbakar, menimbulkan korban jiwa. Di Jogja, mobil patroli diamuk massa, dan di Solo, petugas ambulans justru jadi korban kekerasan aparat.
Namun, di balik kerusuhan itu, ada beban yang tak ringan di pundak Presiden Prabowo. Ia memimpin di tengah pusaran kepentingan: dari elite lama yang masih ingin berpengaruh, hingga civil society yang menuntut arah baru. Penangkapan besar-besaran terhadap mafia migas, sawit, tambang, dan cukong narkoba menunjukkan keberanian pemerintah memberantas jaringan lama. Tapi langkah ini juga memicu kegelisahan di kalangan oligarki dan elite politik yang merasa terancam.
Di sisi lain, Gibran sebagai Wakil Presiden belum sepenuhnya dilibatkan dalam pengambilan kebijakan strategis. Hal ini menimbulkan spekulasi dan kecemasan di kalangan keluarga Jokowi, meski belum ada pernyataan resmi. Publik pun mulai bertanya: apakah Prabowo benar-benar memimpin dengan independen, atau masih terikat oleh kompromi politik?
Lima aliran demonstrasi muncul, masing-masing dengan agenda berbeda. Tapi jika dikristalisasi, semuanya bermuara pada dua poros besar: mereka yang ingin mempertahankan status quo, dan mereka yang berharap perubahan.
Kini, Prabowo berada di persimpangan sejarah. Ia bisa memilih jalan kompromi yang nyaman tapi penuh jebakan, atau jalan reformasi yang berat tapi bermartabat. Pilihannya akan menentukan bukan hanya nasib pemerintahannya, tapi juga arah demokrasi Indonesia ke depan.
Di ranah Minang, kita mengenal pepatah: _“Nan sabana indak dapek ditampik, nan indak sabana indak patuik dipaksakan.”_
Mungkin saatnya negeri ini kembali pada yang sabana: suara rakyat yang jujur, bukan bisikan kekuasaan yang licik.
Referensi:
[1] Demo 25 Agustus 2025 di Gedung DPR, Apa Saja Tuntutannya? (https://www.kompas.com/tren/read/2025/08/25/143000365/demo-25-agustus-2025-di-gedung-dpr-apa-saja-tuntutannya-)
[2] Kronologi Lengkap Demo DPR 25 Agustus 2025 yang Berujung Ricuh (https://www.beritasatu.com/nasional/2916846/kronologi-lengkap-demo-dpr-25-agustus-2025-yang-berujung-ricuh)
[3] Isi Tuntutan Demo Hari ini Tanggal 25 Agustus 2025 di Gedung DPR/MPR RI (https://katadata.co.id/lifestyle/varia/68abe7b420990/isi-tuntutan-demo-hari-ini-tanggal-25-agustus-2025-di-gedung-dprmpr-ri).
Penulis. : Donna R. Joesoef
Editor. : Red minakonews
