Ratusan pelajar dan mahasiswa di Kupang terpapar HIV/AIDS—angka tertinggi bahkan dibanding PSK, ungkap KPAD (Ilustrasi: 44d1n0/AI).
Kupang (Nusa Tenggara Timur). MINAKONEWS.COM – Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Kupang mengungkap data mencengangkan: dari total 2.539 kasus HIV/AIDS yang tercatat hingga September 2025, pelajar dan mahasiswa menjadi kelompok penderita terbanyak, bahkan melampaui jumlah wanita pekerja seks langsung (WPSL).
Sekretaris KPAD Kota Kupang, Julius Tanggu Bore, menyebut bahwa 254 kasus berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa, sementara WPSL tercatat sebanyak 203 kasus. Ia menyampaikan keprihatinan atas maraknya praktik prostitusi yang melibatkan pelajar SMP dan SMA, serta perilaku seks bebas yang semakin sulit dikendalikan.
Fenomena ini diperparah oleh prostitusi online dan tukar pasangan di kalangan remaja. Beberapa pelajar dilaporkan melakukan hubungan seksual dengan hingga delapan orang dalam sehari. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Kupang menyebut bahwa kondisi “fatherless” atau ketiadaan figur ayah dalam keluarga menjadi salah satu pemicu anak-anak terjerumus dalam perilaku seksual berisiko.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menyoroti lonjakan kasus HIV/AIDS yang merambah generasi muda. Ia menegaskan perlunya pengetatan jam belajar, pengawasan sosial, dan edukasi seksual berbasis sekolah sebagai langkah preventif. Menurutnya, penyakit sosial yang menyasar pelajar harus dicegah sejak dini agar tidak mengancam masa depan daerah.
Dinas Kesehatan Kota Kupang dan KPAD menyatakan bahwa Kota Kupang menjadi wilayah dengan kasus HIV/AIDS terbanyak di NTT, melampaui 21 kabupaten/kota lainnya. Praktik tukar pasangan dan prostitusi berbasis aplikasi seperti MiChat menjadi sorotan aparat, dengan beberapa siswi SMK dan mahasiswi diamankan dalam Operasi Pekat Turangga 2025 oleh Polda NTT.
KPAD dan Pemkot Kupang saat ini tengah menggalakkan kampanye hidup sehat, konseling HIV, dan edukasi seksual di sekolah-sekolah. Namun, tantangan besar masih membayangi, terutama dalam hal stigma, akses layanan kesehatan, dan pengawasan terhadap perilaku seksual remaja.
Penulis: DRJ/44d1n0
Editor. : Red. Minakonews.com
