Indeks

Duka di Tengah Sumpah Pemuda: Dua Siswa SMP di Sawahlunto Meninggal Dalam Sebulan

Di Bulan Pemuda, Kita Kehilangan Dua Jiwa.” Dua bangku kosong, dua cerita yang terputus. Di tengah semangat Sumpah Pemuda, Sawahlunto berduka dan diajak merenung: sudahkah sekolah menjadi ruang aman bagi anak-anak kita?.(Ilustrasi: d®amlis/AI).

Sawahlunto (Sumbar), MINAKONEWS.COM – Hari Sumpah Pemuda seharusnya menjadi momentum kebangkitan semangat generasi muda. Namun di Kota Sawahlunto, peringatan ke-97 tahun ini berubah menjadi momen duka. Seorang siswa SMP Negeri 7 ditemukan meninggal dunia di ruang kelasnya, hanya beberapa jam setelah memimpin barisan upacara.

Sawahlunto dikenal sebagai Kota Layak Anak, dengan berbagai program perlindungan dan pendidikan inklusif. Namun dua kasus kematian siswa SMP dalam satu bulan terakhir mengguncang kepercayaan publik terhadap sistem pendampingan remaja di sekolah.

Korban berinisial BE (15 tahun), siswa kelas VIII SMPN 7 Sawahlunto, dikenal aktif dan disiplin. Ia memimpin barisan kelas dalam upacara Sumpah Pemuda pagi itu. Kepala sekolah menyebut tidak ada tanda-tanda gangguan perilaku sebelumnya.

BE ditemukan meninggal di ruang kelas sekitar pukul 11.45 WIB, dengan lilitan dasi di lehernya. Sebelumnya, pada 6 Oktober 2025, seorang siswa SMPN 2 juga ditemukan meninggal di ruang OSIS. Dua peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar: apakah sistem perlindungan psikologis di sekolah sudah cukup?

“Kami sangat prihatin. Dua kasus dalam satu bulan adalah sinyal serius. Kami akan memperkuat pendampingan psikologis di sekolah,” — Asril, Kepala Dinas Pendidikan Sawahlunto

Kematian dua siswa dalam rentang waktu yang berdekatan bukan sekadar insiden, melainkan refleksi atas tekanan yang mungkin dialami remaja di lingkungan pendidikan. Di tengah tuntutan akademik dan sosial, ruang aman untuk berbicara dan didengar menjadi kebutuhan mendesak.

Minakonews mendorong agar sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang pemulihan dan pendampingan. Pendekatan psikologis, pelatihan guru, dan keterlibatan orang tua harus diperkuat.

Duka ini bukan akhir, melainkan panggilan untuk perubahan. Sawahlunto sebagai Kota Layak Anak harus menjawab tantangan ini dengan kebijakan yang berpihak pada kesehatan mental dan keselamatan siswa.

Sudirman, Kepala SMPN 7 Sawahlunto menyatakan:
“BE anak yang baik. Pagi itu ia memimpin barisan dengan semangat. Kami sangat kehilangan.

Minako Bicara

Minakonews mengajak seluruh pihak untuk membuka ruang dialog tentang kesehatan mental remaja. Mari jaga anak-anak kita, bukan hanya dengan aturan, tapi dengan empati.

Penulis: d®amlis
Editor. : Red. Minakonews.com