Presentasi blak-blakan Purbaya di forum GREAT Institute disebut jadi titik balik yang membuat Prabowo tertarik mengangkatnya sebagai Menteri Keuangan (Dok. Ist).
Jakarta (DKI Jakarta). MINAKONEWS.COM — Ketika Presiden Prabowo Subianto menunjuk Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan pada 8 September 2025, banyak yang mengira keputusan itu lahir dari kalkulasi teknokratik biasa. Namun di balik penunjukan tersebut, ada satu momen yang disebut sebagai titik balik: sebuah presentasi ekonomi yang blak-blakan, jujur, dan jauh dari gaya diplomatis.
Dalam forum ekonomi yang digelar GREAT Institute di Gedung Bidakara, Jakarta, Purbaya memaparkan kondisi perekonomian nasional secara lugas. Ia menyoroti stagnasi pertumbuhan Indonesia di kisaran 5 persen dan menyebut negara membutuhkan “cara baru” untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah. “Kalau kita puas dengan pertumbuhan 5 persen, maka kita akan terus berada di kelas menengah. Kita harus berani mengubah strategi ekonomi nasional,” ujarnya dalam forum yang belakangan banyak dikutip.
Sumber internal menyebutkan bahwa Prabowo terkesan bukan hanya oleh data dan grafik, tapi oleh gaya penyampaian Purbaya yang jujur dan apa adanya. “Yang menarik perhatian Pak Prabowo bukan sekadar isi presentasinya, tapi cara Purbaya menjelaskan: jujur, tanpa pemanis. Gaya itu jarang,” ujar seorang peserta forum.
Beberapa bulan setelah forum tersebut, nama Purbaya mulai ramai disebut di lingkaran dekat Prabowo. Ia kemudian dilantik sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 86P Tahun 2025. Penunjukannya bahkan disebut sebagai kebijakan paling populer di awal Kabinet Prabowo, menurut survei GREAT Institute.
Purbaya bukan nama baru di dunia ekonomi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Direktur Utama Danareksa Sekuritas, dan aktif di Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Latar belakang akademiknya mencakup gelar insinyur dari ITB dan doktor ekonomi dari Purdue University, Amerika Serikat.
Di awal masa jabatannya, Purbaya langsung menetapkan target ambisius: pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 di atas 5,5 persen. “Kata Pak Presiden, kalau di atas 5,5% saya dikasih hadiah,” ujarnya sambil tersenyum dalam rapat kerja Komite IV DPD RI.
Namun di balik senyuman itu, sikap tegasnya tetap terlihat. Dalam isu utang proyek Kereta Cepat Whoosh, Purbaya menolak penggunaan APBN untuk menanggung beban utang, meski Presiden Prabowo menyatakan akan bertanggung jawab penuh. Sikap ini dinilai sebagai sinyal bahwa Purbaya akan menjaga disiplin fiskal, sekaligus mendorong efisiensi dan kemandirian ekonomi.
Lebih dari sekadar jabatan, kehadiran Purbaya di kursi Menteri Keuangan menandai arah baru kebijakan fiskal Indonesia: berani, jujur, dan berbasis produksi. “Purbaya Effect” bukan hanya soal popularitas, tapi tentang bagaimana gaya bicara bisa mengubah arah kebijakan negara.
Penulis: DUR/DRJ
Editor. : Red. Minakonews.com
