Warga korban banjir dan longsor Aceh Tengah berunjuk rasa di depan Kantor Bupati, menuntut bantuan pangan dan BBM. Spanduk bertuliskan ‘Sebutir beras pun kami belum terima.(Potret Digital: DM/AI).
Takengon (Aceh Tengah). MINAKONEWS.COM – Puluhan warga korban banjir dan longsor mendatangi Kantor Bupati pada Selasa (2/12/2025) untuk menuntut bantuan. Mereka mengaku belum menerima sebutir beras pun sejak bencana melanda sepekan lalu.
Aksi berlangsung tertib namun penuh kekecewaan. Massa membawa anak kecil, galon kosong, dan pakaian seadanya. “Sebutir beras pun kami belum terima,” teriak seorang warga di halaman kantor. Keluhan serupa bergema dari warga lain yang menuntut pemerintah segera bergerak cepat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah menyebut distribusi logistik sangat minim karena akses jalan terputus, listrik padam, dan komunikasi lumpuh. Kepala BPBD Andalila menjelaskan bantuan beras baru masuk 13 ton pada 1 Desember 2025, dibagi dua dengan Kabupaten Bener Meriah. “Jatah Aceh Tengah hanya 6,5 ton, jelas tidak cukup untuk puluhan ribu warga terdampak,” ujarnya.
Data resmi mencatat 22 orang meninggal dunia dan 23 orang masih hilang akibat banjir dan longsor. Enam dari 14 kecamatan masih terisolir, membuat bantuan sulit menjangkau warga. Anak-anak mulai sakit karena makanan tidak teratur dan air minum kotor.
Selain beras, warga juga menuntut ketersediaan BBM. Massa sebelumnya bergerak dari SPBU menuju Kantor Bupati, menyorot kelangkaan bahan bakar yang membuat aktivitas lumpuh. Bupati Haili Yoga mengakui kondisi darurat dan berjanji membuka akses jalan utama serta mempercepat distribusi bantuan.
Meski belum ada keputusan konkret, pemerintah daerah memastikan pusat komando tanggap darurat akan diperkuat. Relawan dan tim SAR terus mencari korban hilang di medan sulit, meski terhambat hujan deras dan risiko longsor susulan.
Penulis: Dur Mandala
Editor; : Red. Minakonews.com
