Gubernur Sumbar Mahyeldi bersama tokoh masyarakat dan aktivis lingkungan memulai penanaman perdana Gerakan Sejuta Pohon di Kota Padang, sebagai langkah strategis pemulihan ekologi pasca-bencana hidrometeorologi. (Foto Dok. Diskominfo).
Padang (Sumbar). MINAKONEWS. Kota Padang memulai tahun 2026 dengan langkah ekologis strategis: melawan krisis hidrometeorologi melalui gerakan penanaman sejuta pohon. Gerakan ini diluncurkan di Pemandian Jembatan Sitapuang, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kamis (22/01/2026), sebagai respons atas kerusakan ekosistem hulu sungai pasca-bencana akhir tahun lalu yang memicu krisis air bersih di 121 titik.
Kegiatan bertajuk “Sejuta Pohon untuk Sumbar 2026” ini digagas oleh Rumah Aktivis Sejahtera dan didukung penuh oleh Pemerintah Kota Padang. Penjabat Sekda Kota Padang, Raju Minropa, menegaskan bahwa penghijauan kembali kawasan hulu sungai adalah solusi mutlak untuk memulihkan siklus air dan mencegah kekeringan berulang.
“Bencana November–Desember lalu menyebabkan pergeseran aliran sungai, memutus jaringan irigasi, dan menurunkan cadangan air tanah. Sungai-sungai berpindah daerah alirannya sehingga sumur-sumur masyarakat kering. Fokus kita sekarang adalah memastikan kebutuhan air warga kembali terpenuhi,” ujar Raju.
Data Pemkot mencatat Kecamatan Kuranji sebagai wilayah terdampak terparah, dengan sekitar 80 persen warganya tidak terjangkau layanan PDAM dan bergantung pada sumur gali yang kini mengering. Untuk itu, Pemkot Padang menyusun dua tahap rencana aksi: distribusi air bersih melalui mobil tangki BPBD dan PMI, serta pembangunan sumur bor di lima lokasi prioritas bekerja sama dengan Balai Pembangunan Kawasan Permukiman Sumbar.
Gerakan sejuta pohon ini menjadi solusi jangka panjang. Melalui Dinas Pertanian yang juga membidangi kehutanan, Pemkot berkomitmen mengawal pertumbuhan pohon-pohon tersebut sebagai bagian dari ketahanan ekologi kota. “Kami tidak hanya menanam, tapi juga menjaga agar pohon-pohon ini tumbuh dan menghidupkan kembali hulu sungai,” tegas Raju.
Gubernur Sumbar, Mahyeldi, turut hadir dalam launching dan menyampaikan apresiasi atas inisiatif ini. Ia menyebut gerakan ini sebagai langkah strategis dalam pemulihan ekologis Sumbar pasca-bencana, sekaligus bentuk nyata kolaborasi antara masyarakat sipil dan pemerintah.
Penulis : d®amlis
Editor. : Red. Minakonews.com
