Tragedi Ngada: Buku dan pena yang tak terbeli, jadi alarm serius bagi hak anak.(Infografis: Minakonews).
Ngada (NTT). MINAKONEWS – Seorang anak yang meninggal dunia di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menjadi sorotan publik setelah kisahnya tentang kesulitan membeli buku dan alat tulis mencuat. Peristiwa ini menegaskan masih adanya hambatan nyata bagi anak-anak di daerah terpencil untuk memperoleh hak pendidikan yang layak.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyatakan bahwa Kementerian Sosial telah melakukan asesmen terhadap keluarga korban dan menyalurkan bantuan berupa santunan, sembako, nutrisi, serta dukungan pendidikan bagi kakak korban. “Kasus ini menjadi pengingat pentingnya penguatan data masyarakat miskin agar intervensi tepat sasaran,” ujarnya.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai kasus Ngada sebagai bagian dari kondisi darurat anak di Indonesia. KPAI menekankan perlunya investigasi menyeluruh, termasuk kemungkinan faktor perundungan di sekolah. “Hak anak atas pendidikan harus dijamin tanpa hambatan, baik ekonomi maupun sosial,” tegas perwakilan KPAI.
Aparat Kepolisian Ngada mengonfirmasi kronologi bahwa korban sempat meminta uang untuk membeli buku dan pena, namun ditolak karena keterbatasan ekonomi keluarga. Polisi juga menurunkan tim psikolog untuk mendampingi keluarga pasca peristiwa.
Kasus Ngada ini bukan sekadar cerita tentang seorang anak, melainkan simbol dari tantangan besar yang masih dihadapi banyak keluarga di pelosok Indonesia. Pendidikan yang layak harus menjadi prioritas, karena di sanalah masa depan anak bangsa ditentukan.
Penulis: Dur Mandala Putra
Editor. : Red. Minakonews.com
