Oleh: Sts.Dt.Rajo lndo, S.H, M.H.(12)
Diliek lipek indak barubah, kok di bukak lah tambuak tiok ragi. Hal tersebut bisa diantara Panghulu Adat kito disebabkan karena sudah ada yang terlena. Panghulu yang terlena anak kamanakan yang tidak berdaya.
Karena itu Pengangkatan Panghulu Adat yang belum cukup umur atau anak-anak yang diangkat menjadi pimpinan. Mengangkat Panghulu Adat yang belum baligh belum berakal, belum berumur 17 tahun tidaklah tepat. Apalagi dewasa ini tidak ada anak balita yang lebih tinggi ilmu pengetahuannya dari lulusan SMTA.
Karena itu demi kualitas, harkat dan martabat serta harga diri dan kesaktian Panghulu Adat. Maka sarat untuk jadi Panghulu adat sudah banyak yang diterapkan orang di atas 16 tahun. Sebab orang yang berumur diatas 16 tahun itu akan dapat dengan cepat mengetahui adat, minimal menguasai tonggak sejarah adat alam Minangkabau.
Adat Minangkabau tidak obahnya suatu bangunan. Setiap bangunan akan kokoh tegaknya jika punya tonggak. Oleh karena itu tiap bangunan yang tidak bertonggak gampang tumbang (tumbang adat Minangkabau).
Tonggak sejarah adat Minangkabau itu sesungguhnya tidaklah banyak. Hal itu sebagai mana disajikan oleh adat nan “Sabatang panjang”. Adat 4, Nagari 4, hukum 4, kato 4, undang 4 dan cupak nan 2 (duo).
Adat nan 4 itu. 1.Adat nan sabananyo adat adolah yang sifatnya bertolak dari sunatullah. Sebagai contoh sifat ayie membasahi, sifat api membaka. Yang ke-2 Adat nan teradat adalah yang dibuat Dt.Katumangguangan jo Dt.Prapatieh Sabatang, contohnya ketek banamo, gadang bagala, iduik batampek mati bakubuo.
Yang no. 1 dan no.2 ini disebut adat babuhuo mati. Dibubuik indak layua dianjak indak mati.
Sedangkan yang ke-3 adalah adat istiadat. Adat istiadat adalah yang bernuansa kesenian, dibuat oleh seniman dengan sifatnya menyenangkan. Sebagai contohnya badendang jo basaluang, rabab, kucapi, randai dll sejenisnya. Adapun yang ke- 4 adat nan diadatkan. Adat nan diadatkan ini yang dibuat oleh Datuak-Datuok, cadiak pandai dan tokoh-tokoh masyarakat Nagari.
Yang No.3 dan No.4 ini kedudukannya adalah adat “Salingka Nagari”. Adat Saling ka Nagari disebut adat nan babuhuo sintak. Adat nan babuhuo sintak tersebut sebagai mana dinyatakan mamang adat yang berbunyi;
Masaklah padi rang Singkarak, masak nyo batangkai-tangakai, Satangkai jarang ado nan mudo — Kabek sabalik babuhuo sintak, jarang urang nan maungkai, kok tibo maso rarak sandirinyo (bersambung).
Penulis : Sts Dt. Rajo Indo
Editor. : Red minakonews
