Indeks

Gejolak Energi Global, Harga Minyak Naik Tajam dan BBM Nonsubsidi Indonesia Mulai Terkerek

Ilustrasi dampak lonjakan harga minyak dunia terhadap BBM nonsubsidi di Indonesia, digambarkan dengan grafik panah merah menanjak, simbol barel minyak, dan pompa bensin. (Ilustrasi: Minakonews/AI).

MINAKONEWS.COM – Ketegangan di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi dunia. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran pada akhir Februari 2026 membuat harga minyak mentah melonjak tajam, memicu penyesuaian harga BBM nonsubsidi di Indonesia sejak 1 Maret. Pertamax kini dijual Rp12.300 per liter, Pertamax Green Rp12.900, Dexlite Rp14.200, dan Pertamina Dex Rp14.500.

Lonjakan harga minyak dunia tercatat signifikan. Minyak Brent sempat menembus USD 82 per barel sebelum turun ke USD 77, sementara WTI naik ke USD 71. Analis energi memperingatkan, jika blokade Selat Hormuz berlangsung lama, harga minyak global bisa menembus USD 100–150 per barel. Bahkan, skenario ekstrem menyebutkan harga bisa mencapai USD 200 per barel.

Indonesia sangat rentan terhadap gejolak ini karena sekitar 90 persen impor minyak berasal dari kawasan Teluk. Kenaikan harga BBM nonsubsidi sudah terjadi, sementara BBM subsidi seperti Pertalite (Rp10.000) dan Solar (Rp6.800) masih ditahan pemerintah demi menjaga daya beli masyarakat.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pasokan energi nasional tetap aman. Pemerintah menyiapkan skenario mitigasi, termasuk memanfaatkan windfall profit dari ekspor komoditas energi lain untuk menahan kenaikan harga BBM subsidi. Namun, ia mengakui tekanan fiskal akan semakin berat jika harga minyak global terus melonjak.

Publik kini menunggu langkah lanjutan pemerintah dalam menghadapi gejolak energi global. Stabilitas sosial dan fiskal menjadi pertaruhan besar jika konflik di Timur Tengah berlarut, sementara harga BBM nonsubsidi sudah mulai terkerek naik.

Penulis: Dinno Veoline
Editor. : Red. Minakonews.com