Menteri Ketenagakerjaan Prof. Yassierli, Ph.D. saat menyampaikan orasi ilmiah Wisuda ke‑72 Politeknik Negeri Padang, menekankan pentingnya talenta adaptif menghadapi era kecerdasan buatan dan perubahan dunia kerja (Foto Dok. Humas).
Padang (Sumbar). MINAKONEWS.COM – Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Prof. Yassierli, Ph.D., menyampaikan orasi ilmiah pada Wisuda ke-72 Politeknik Negeri Padang, Sabtu (26/9). Dalam pidato bertajuk “Menjadi Talenta Adaptif di Dunia Kerja yang Terus Berubah”, ia menekankan bahwa lulusan perguruan tinggi harus siap menghadapi disrupsi teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), yang kini menjadi faktor terbesar dalam perubahan dunia kerja.
Prof. Yassierli menjelaskan bahwa setiap era membawa disrupsi baru: internet di tahun 2000, platform digital di 2010, dan AI di 2020. Kini dunia memasuki Age of AI yang mengubah bisnis dengan kecepatan luar biasa. Data menunjukkan 22 persen pekerjaan akan terdampak, 92 juta pekerjaan hilang, namun 170 juta pekerjaan baru akan tercipta. “Hari-hari ketika ijazah universitas cukup untuk bekal sepanjang karier sudah berakhir. Pembelajaran harus berlanjut sepanjang hidup,” ujarnya.
AI disebut memengaruhi hampir semua sektor, dengan 41–58 persen jam kerja berpotensi terdampak. Namun, muncul paradoks: perekrutan entry-level di sektor dengan paparan AI tinggi menurun, tetapi 73 persen pimpinan perusahaan justru menyatakan akan menciptakan posisi entry-level baru berbasis AI. Kondisi ini menuntut keterampilan baru yang sebelumnya identik dengan posisi senior, seperti people management, stakeholder management, dan data-driven decision making.
Dalam orasi, Menteri menguraikan empat keterampilan utama yang harus dimiliki lulusan: Core & Technical Skills berupa disiplin ilmu, sertifikasi, portofolio, dan magang; Human Skills seperti berpikir kritis, empati, komunikasi, dan kepemimpinan; AI Collaboration Skills untuk bekerja bersama AI dengan tetap mengedepankan etika, kreativitas, dan judgement; serta Entrepreneurial Mindset yang menekankan inisiatif, solusi, dan penciptaan nilai di berbagai bidang, bukan hanya bisnis.
Ia juga menyoroti pentingnya growth mindset, grit, dan sistem pengembangan diri yang konsisten. Perguruan tinggi, menurutnya, harus menjadi jembatan kuat antara kampus dan industri melalui kurikulum berbasis proyek, kolaborasi dengan dunia usaha, serta standardisasi micro-credential. “Perguruan tinggi tidak cukup hanya melahirkan lulusan dengan ijazah. Lulusan harus membawa kompetensi yang terukur, portofolio nyata, dan mindset bertumbuh,” tegasnya.
Agenda Kemnaker turut dipaparkan, meliputi transformasi Balai Latihan Kerja, pelatihan vokasi nasional untuk 340.000 peserta, serta program magang nasional bagi 150.000 peserta pada 2026. Selain itu, penguatan Labor Market Information System akan menjadi infrastruktur link-and-match yang adaptif dengan kebutuhan industri.
Dengan orasi ini, Prof. Yassierli menegaskan bahwa talenta adaptif adalah kunci menghadapi era disrupsi. Lulusan perguruan tinggi dituntut tidak hanya berbekal ijazah, tetapi juga keterampilan nyata, kemampuan berkolaborasi dengan teknologi, serta semangat inovasi untuk menciptakan nilai di tengah dunia kerja yang terus berubah.
Penulis: d®amlis
Editor: Red. Minakonews.com.


