Masjid Nurul Amin Pagaruyuang.(Foto : Dt).
Tanah Datar (Sumbar), MINAKONEWS.COM –
Perjuangan yang paling berat melawan hawa nafsu. Karena itu penjarakan hawa nafsu masing-masing. Bagi yang kalah oleh hawa nafsu akan masuk kejurang kehancuran.
Demikian antara lain disampaikan oleh Bustami Nurdin, S.Kom dari Sawah Lunto dihadapan jema’ah yang memadati acara Shalat ldhul Fitri di Masjid Nurul lman Pagaruyuang 1 Sawal 1446 H dalam khotbah nya di Masjid Nurul Amin Pagaruyuang, Senin (1/4-25).
Hidup ini adalah perjuangan, oleh sebab itu kita ketika masih hidup di bumi harus berjuang. Berjuang untuk kesejahteraan. Hidup yang tidak berjuang bagaikan kayu rim bun yang tidak berbuah, percuma.
Dari sekian banyak perjuangan yang di hadapi, perjuangan melawan hawa nafsu yang paling berat. Kecuali bagi orang yang telah mempenjarakan hawa nafsunya. Memang hawa nafsu itu harus dipenjarakan dan jangan sampai dibunuh, tegas ustadz dari kemenag itu.
Jika dibunuh hawa nafsu kita bisa tidak bernafsu dan lesu. Orang yang tidak punya hawa nafsu juga tidak akan bernafsu untuk berkerja dan berjuang. Bagi yang lesu karena tidak bernafsu baik untuk makan akan bertambah lesu, cukup dipenjarakan saja hawa nafsu itu.
Tiada kata yang dapat diucapkan dan tiada syukur yang dapat disampaikan kepa da Alloh S.W.T. Karena atas rahmat dan nikmatnya kita hidup di bumiNya. Kita makhluk Allah yang kecil dan tiada yang besar dari Allah Yang Maha Kuasa. Karena itu kita mengharapkan RedohNya.
Satu bulan penuh kita berpuasa bukan hanya mengaharapkan pahala, melainkan juga mohon diampuni segala kesalahan. Apagi bagi yang hidup bergelimang dosa dengan maksiat. Dari ampunan itu semo ga kita kembali kepada fitrah bagaikan anak yang baru lahir. Anak yang baru lahir itu suci dan bersih.
Tidak ada anak yang haram dan tidak anak yang baru lahir itu berdosa. Kecuali perbuatan orang tua dari anak itu yang me langgar dan berbuat zina. Oleh sebab itu segeralah minta ampun dengan berjanji pada Alloh Yang Maha Kuasa dan tidak akan melanggar laranganNya lagi.
Menurut Bustami Nurdin jangan berfikir bagaikan yahudi. Allah yang menentukan segala-galanya. Hidup mati ditangan Alloh dan hukum Alloh masih berlaku. Oleh kare na itu jangan lupakan agama dan jangan lupakan Alloh, serunya Bustami Nurdin.
Seriring dengan itu khotib tersebut me ngataka, setiap orang tua punya tanggung jawab terhadap anak semenjak dari mema sangkan pakaian terhadap anak. Jika orang tua tidak pandai memasang pakain hingga pakaian yang dibuat tidak sampai keatas dan senjang ke-bawah. Biasa saja anak mengikuti orang tuanya semenjak dari berpakaian sampai ketingkah lakunya.
Kita di dunia ini bagaikan orang yang se dang merantau. Pada waktunya akan pulang kampung sebagaimana yang kita saksikan. Apa yang dibawa dari rantau untuk kekampung Akhirat juga harus dipersiapkan dari sekarang. (Dt).
Penulis : Dt
Editor : Red minakonews