Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, berdiri di tengah kerumunan mahasiswa saat aksi damai di halaman Gedung DPRD Sumbar, Senin (1/9).(Dok. Vasko Ruseimy).
Padang (Sumbar), MINAKONEWS.COM –
Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Sumatera Barat, komunitas driver ojek online, dan masyarakat sipil memadati halaman Gedung DPRD Sumbar dalam aksi demonstrasi damai yang berlangsung sejak siang hingga malam. Di tengah sorotan nasional terhadap dinamika politik, Sumatera Barat menunjukkan wajah demokrasi yang sejuk, tertib, dan bermartabat.
Kampus Mendukung, Mahasiswa Bergerak
Dua kampus besar di Padang, Universitas Andalas (Unand) dan Universitas Negeri Padang (UNP), secara simbolik melepas mahasiswanya menuju lokasi aksi. Rektor Unand, Prof. Efa Yonnedi, dan Rektor UNP, *Prof. Krismadinata*, hadir langsung dalam pelepasan tersebut dan memberikan arahan agar mahasiswa menjaga etika dalam menyampaikan aspirasi.
Jangan anarkis, jangan merusak peralatan, gedung, fasilitas-fasilitas umum jangan dirusak. Yang penting apa yang kita perjuangkan tercapai,” ujar Prof. Krismadinata.
Dari Politeknik Negeri Padang, pimpinan kampus juga menegaskan bahwa jika ada ajakan anarkis, mahasiswa diminta *mundur dari barisan* dan tetap berdemo secara tertib. Sikap ini menunjukkan bahwa kampus tidak hanya melepas, tapi juga membimbing.
Mahasiswa mengenakan pita merah di kepala, lengan, dan tas sebagai simbol solidaritas. Mereka bergerak secara terorganisir, membawa poster, orasi, dan semangat perubahan.
Etika Aksi: FIB Unand dan Emak-Emak Turun Tangan
Di tengah keramaian, mahasiswa dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unand menunjukkan aksi nyata: mereka mengumpulkan sampah di lokasi demo sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Aksi ini mendapat apresiasi dari peserta lain dan aparat yang berjaga.
Tak hanya mahasiswa, sejumlah emak-emak juga ikut menyampaikan aspirasi. Mereka berorasi dengan lugas, menyuarakan keresahan soal harga kebutuhan pokok, pajak, dan perilaku pejabat. Kehadiran mereka memperkuat bahwa gerakan ini bukan milik satu kelompok, tapi suara rakyat lintas generasi.
Vasko Ruseimy: Aspirasi Harus Dijaga dengan Adat
Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, turut hadir dalam aksi dan menyampaikan apresiasi terhadap cara mahasiswa menyampaikan aspirasi. Ia menegaskan bahwa Sumbar punya tradisi musyawarah yang kuat, dan demonstrasi damai seperti ini mencerminkan nilai luhur Minangkabau.
Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah,” ucap Vasko, mengingatkan bahwa perjuangan rakyat harus tetap berpijak pada etika dan nilai budaya.
Kehadiran Vasko menjadi penanda bahwa pemerintah daerah membuka ruang dialog dan tidak memandang aksi sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari dinamika demokrasi.
Kapolda Belum Hadir, Tapi Dialog Tetap Hidup
Kapolda Sumbar Irjen Pol Gatot Tri Suryanta belum kembali menemui mahasiswa hari ini, setelah sebelumnya sempat turun langsung pada Jumat malam (29/8) usai insiden rubuhnya gerbang Mapolda. Dalam pertemuan itu, Kapolda menyampaikan permintaan maaf atas tewasnya Affan Kurniawan, driver ojol yang dilindas kendaraan taktis Brimob di Jakarta.
Kapolda menegaskan bahwa pelaku telah diproses oleh Propam Mabes Polri dan hasilnya akan diumumkan secara terbuka. Meski belum hadir kembali, suasana aksi tetap kondusif dan penuh semangat aspiratif.
Tuntutan yang Disuarakan
Massa aksi menyampaikan sejumlah tuntutan, antara lain:
– Penolakan kenaikan tunjangan DPR
– Pengesahan RUU Perampasan Aset
– Reformasi total Polri
– Transparansi kasus kematian driver ojol
Ketua DPRD Sumbar, *Muhidi*, menerima tuntutan tersebut dan berjanji akan menyampaikannya ke tingkat pusat. Aksi ini juga mendapat apresiasi dari aparat keamanan yang menyebut bahwa demonstrasi berlangsung tertib dan aman.
Musyawarah Minangkabau: Demokrasi yang Menyejukkan
Orasi mahasiswa dan tokoh masyarakat banyak mengutip nilai-nilai adat Minangkabau sebagai landasan moral dalam menyampaikan pendapat:
Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakaik, Alun takileh, alah takalam
Aksi ini bukan sekadar protes, tapi juga pelajaran sosial: bahwa aspirasi bisa disampaikan tanpa bentrokan, dan bahwa kampus, aparat, serta masyarakat bisa berdiri di ruang yang sama ruang musyawarah.(FA).
Penulis. : FA
Editor. : Red minakonews
