Gambar Ahad Nasution menyeberangi sungai sambil mengepit buku akad nikah (versi AI).
Pasaman (Sumbar), MINAKONEWS.COM – Sabtu pagi lalu. Langit masih kelabu, sisa hujan semalam belum reda sepenuhnya. Di Kecamatan Dua Koto, seorang penghulu bernama Ahad Nasution bersiap menjalankan tugas negara : menikahkan sepasang pengantin di Jorong Batang Kundur. Jaraknya 27 kilometer dari pusat kecamatan, melewati jalan licin, bukit terjal, dan satu tantangan besar, sungai yang jembatannya telah putus.
Ahad tahu medan itu tidak mudah. Ia sudah menyiapkan baju ganti, berjaga-jaga jika harus menyeberangi sungai. Dan benar saja, sesampainya di tepi sungai, arus deras menyambutnya. Tak ada jembatan. Tak ada perahu. Hanya air yang bergulung dan harapan di seberang.
Dibantu warga, Ahad memutuskan berenang. Kitab nikah dibungkus plastik, semangat dibungkus tekad. Di seberang, ojek lain sudah menunggu untuk membawanya ke lokasi akad. Di sana, keluarga mempelai dan tokoh adat menyambutnya dengan haru. Prosesi berlangsung khidmat, sakral, dan penuh makna.
Akad selesai pukul 11.30 WIB. Tapi hujan belum berhenti. Arus sungai makin deras. Warga menyarankan agar Ahad bermalam di desa demi keselamatan. Ia pun tinggal, membawa pulang bukan hanya cerita, tapi juga penghormatan.
Kisah Ahad bukan sekadar berita viral. Ia adalah potret pengabdian yang tak mengenal batas. Di tengah keterbatasan infrastruktur, ia hadir sebagai wajah negara, berenang bukan karena gaji, tapi karena janji.(FA).
Penulis. : FA
Editor. : Red minakonews
