Indeks

Diana Kartika : Rektor Universitas Bung Hatta, Perempuan Pelopor

Diana Kartika.(Foto : FA).

Padang (Sumbar), MINAKONEWS.COM – Prof. Dr. Dra. Diana Kartika adalah sosok perempuan yang menorehkan sejarah dalam dunia pendidikan tinggi Indonesia. Menjabat sebagai rektor perempuan pertama di Universitas Bung Hatta (2024–2028), ia menjadi simbol kemajuan dan kepeloporan perempuan dalam kepemimpinan akademik di Sumatera Barat.

Dengan latar belakang pendidikan dari Universitas Indonesia dan Universitas Negeri Jakarta, Diana Kartika memadukan keilmuan, budaya, dan teknologi dalam satu visi besar: menjadikan pendidikan sebagai ruang tumbuh yang inklusif, berdaya saing, dan berjiwa lokal.

Pada tahun 2019, Diana Kartika dikukuhkan sebagai Guru Besar Bahasa Jepang pertama di Sumatera. Pengukuhan ini bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga tonggak sejarah bagi Universitas Bung Hatta, yang selama lebih dari satu dekade belum melahirkan guru besar baru. Ia menjadi pelopor dalam bidang yang jarang digeluti, sekaligus membuka jalan bagi pengembangan studi Jepang di Indonesia.

Keunggulan Diana terletak pada kemampuannya menjembatani dunia akademik dengan nilai-nilai kemanusiaan. Di ruang kelas, ia menghidupkan mata kuliah seperti Sochu Bunpo, Shokyu Kaiwa, Gengogaku, BIPA, dan Hospitality Tourism dengan pendekatan yang kontekstual dan menyentuh.

Di luar kelas, ia aktif menulis, menerbitkan tujuh buku, dan menjadi penggerak berbagai forum akademik nasional dan internasional. Kiprahnya di organisasi akademik sangat luas: Ketua Asosiasi Studi Jepang Indonesia, Wakil Ketua Konsorsium Prodi Jepang, reviewer tetap di berbagai jurnal nasional dan internasional, serta asesor beban kerja dosen dan ahli akreditasi program studi.

Namanya tercatat dalam Ensiklopedia 1001 Tokoh Minang Berpengaruh, sebuah penghargaan simbolik yang menempatkan Diana Kartika di antara tokoh-tokoh besar yang membentuk wajah intelektual dan budaya Sumatera Barat. Meskipun lahir di Palembang, kontribusinya di ranah Minang—terutama melalui Universitas Bung Hatta dan berbagai forum kebudayaan—telah menjadikannya bagian penting dari narasi kemajuan perempuan Minangkabau.

Tak hanya cemerlang secara intelektual, Diana juga memiliki jiwa seni yang kuat. Dalam sebuah momen berkesan pada 9 Agustus 2025 di Padang, ia tampil membacakan puisi karyanya sendiri berjudul “Perempuan di Ujung Senja” dalam sebuah acara bergengsi yang diselenggarakan oleh Hamas (Himpunan Media Sumbar).

Organisasi ini dipimpin oleh Isa Kurniawan sebagai Ketua dan Sandy Setia sebagai Sekretaris, dan dikenal aktif mengangkat tokoh-tokoh inspiratif Minang melalui karya sastra dan forum intelektual. Kehadiran Diana dalam forum tersebut menjadi penegasan bahwa ia bukan hanya pemimpin kampus, tapi juga pemimpin jiwa.

Puisi tersebut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cerminan perjalanan batin seorang perempuan pemimpin yang menata dunia dengan keberanian, keteguhan, dan cinta. Lewat bait-bait yang menyentuh, Diana menyuarakan bahwa kepemimpinan perempuan bukan tentang meminta mahkota, melainkan tentang membuktikan kapasitas di tengah badai keraguan.

Penghargaan demi penghargaan pun menghampiri: Satyalancana Karya Satya dari Presiden RI, Duta Kampus Merdeka, dan yang terbaru, Limpapeh Award 2024, sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan kepada perempuan Minang berpengaruh dalam pengembangan pendidikan dan budaya.

Ia juga dikenal sebagai pemilik Hak Kekayaan Intelektual terbanyak di Universitas Bung Hatta. Diana Kartika adalah bukti bahwa seorang perempuan bisa menjadi cerdas, tegas, lembut, dan puitis sekaligus.

Ia bukan hanya mengajar dan memimpin, tapi juga menyentuh hati. Ia berdiri di ujung senja bukan untuk beristirahat, tapi untuk terus berjuang—bagi pendidikan, budaya, dan masa depan generasi Indonesia.(d®amlis).

Penulis. : .(d®amlis).

Editor. : Red minakonews