Indeks

Dua Malam, Dua Dunia: Ragunan Jakarta vs Minangkabau Malam

Ilustrasi suasana malam di Istana Pagaruyung, Tanah Datar, Sumatera Barat, menampilkan pertunjukan tari tradisional Minangkabau di bawah cahaya bulan. Gambar ini merepresentasikan kekuatan wisata malam berbasis budaya dan alam sebagai tandingan elegan dari safari malam Ragunan di Jakarta (Ilustrasi: DRJ/d®amlis/AI).

MINAKONEWS.COM – Jakarta & Sumatera Barat. Sabtu malam di Jakarta kini punya wajah baru. Taman Margasatwa Ragunan resmi membuka program wisata malam bertajuk, Night at the Ragunan Zoo, sejak 11 Oktober 2025. Pengunjung diajak menjelajahi kebun binatang dalam suasana gelap, menyaksikan satwa nokturnal seperti trenggiling, musang bulan, dan harimau Sumatra. Dengan buggy golf car seharga Rp 250.000 per jam, pengalaman ini terasa eksklusif dan terkurasi.

Menurut Kepala Unit Pengelola Ragunan, Endah Rumiyati, wisata malam ini dirancang untuk memberikan edukasi tentang perilaku satwa malam hari tanpa mengganggu ritme alami mereka. “Kami ingin pengunjung merasakan suasana Ragunan yang berbeda, lebih tenang dan intim,” ujarnya dalam peluncuran program tersebut.

Namun, jauh di barat Sumatera, malam punya makna yang berbeda. Di Tanah Datar, Istana Pagaruyung bersinar dalam Safari Budaya Malam. Tari tradisional Minang, pencahayaan tematik, dan kisah rakyat menghidupkan sejarah dalam suasana yang hangat dan reflektif. Tak ada kandang, tak ada buggy, hanya warisan dan kebersamaan.

Data dari Badan Pusat Statistik Sumatera Barat menunjukkan, jumlah kunjungan wisatawan domestik ke provinsi ini mencapai 6,2 juta orang pada tahun 2024, dengan lonjakan signifikan di Bukittinggi, Padang, dan Tanah Datar. Dinas Pariwisata Sumbar juga mencatat, wisata malam seperti Pasar Lereng dan Taplau Padang menjadi titik favorit bagi wisatawan lokal dan luar daerah.

Di Jakarta, Ragunan malam adalah tentang satwa dan teknologi. Di Sumbar, malam adalah tentang budaya dan alam.
Di Ragunan, pengunjung menyaksikan hewan yang aktif setelah gelap. Di Sumbar, pengunjung menyaksikan jiwa Minangkabau yang menyala dalam tradisi.

Lembah Harau dan Bukit Nobita menawarkan trekking malam dengan lentera dan cerita legenda. Sementara Pasar Lereng Bukittinggi menjadi surga kuliner malam, lengkap dengan musik randai dan interaksi sosial yang hangat.

Jakarta mungkin punya cahaya kota dan atraksi modern. Tapi Sumbar punya cahaya tradisi dan ketenangan alam.
Dua malam, dua dunia. Sama-sama indah, tapi berbeda dalam cara menyentuh hati.

Penulis: DRJ/d®amlis
Editor. : Redaksi Minakonews.com