Indeks

Ekspor CPO Angkat Ekonomi Sumbar, Tapi Defisit dan Inflasi Masih Bayangi

Padang (Sumbar), MINAKONEWS.COM – Ekonomi Sumatera Barat memasuki semester kedua 2025 dengan tren stabil, ditopang lonjakan pajak ekspor terutama dari komoditas CPO dan produk turunannya. Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tercatat sebesar 4,66 persen year-on-year pada triwulan I, dengan sektor pertanian, industri pengolahan, dan jasa kesehatan sebagai motor utama. Namun, defisit fiskal dan tekanan inflasi pangan masih menjadi tantangan yang membayangi pemulihan ekonomi daerah.

Dari sisi fiskal, laporan Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Sumatera Barat menunjukkan bahwa hingga akhir April 2025, pendapatan negara di wilayah ini mencapai Rp2,76 triliun atau 35,90 persen dari target APBN tahun 2025. Belanja negara tercatat sebesar Rp9,38 triliun, mengalami kontraksi 9,50 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Selisih antara pendapatan dan belanja menghasilkan defisit regional sebesar Rp6,63 triliun.

Penerimaan perpajakan menjadi sorotan utama, dengan total Rp2,13 triliun atau 77,22 persen dari pendapatan negara. Dari jumlah tersebut, Rp1,22 triliun merupakan pajak neto. Sektor perdagangan besar dan eceran menyumbang Rp297,95 miliar, menjadikannya kontributor terbesar. Yang paling mencolok adalah penerimaan perpajakan luar negeri, khususnya Bea Keluar, yang melonjak hingga 776,48 persen year-on-year dengan realisasi Rp906,94 miliar. Lonjakan ini didorong oleh meningkatnya volume ekspor CPO dan produk turunannya.

Inflasi Sumatera Barat pada April 2025 tercatat sebesar 2,38 persen year-on-year dan 1,77 persen month-to-month, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada di angka 1,95 persen. Kenaikan harga pangan dan distribusi yang belum sepenuhnya pulih menjadi faktor utama pendorong inflasi regional.

Dalam wawancara dengan Minakonews.com, Dr. Nurul Fauzi, S.E., menyampaikan bahwa inflasi Sumatera Barat year-on-year pada Juli 2025 tercatat sebesar 2,19 persen. Kabupaten Pasaman Barat mencatat tingkat inflasi tertinggi sebesar 2,57 persen, sementara Kota Bukittinggi menjadi yang terendah dengan 1,85 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan inflasi nasional pada Juli 2025 yang berada di angka 2,37 persen. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu Juli 2024 yang mencapai 2,44 persen, terlihat penurunan yang cukup signifikan.

Kelompok penyumbang inflasi tertinggi year-on-year di Sumatera Barat berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,66 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,49 persen. Sementara itu, kelompok penyumbang inflasi terendah berasal dari kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar -0,01 persen, serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,01 persen.

Dr. Fauzi merupakan alumnus S3 Universitas Brawijaya dan menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas. Ia aktif dalam kajian ekonomi regional dan menjadi salah satu narasumber utama dalam pemantauan inflasi daerah.

Dengan dukungan sektor ekspor dan pengendalian inflasi yang mulai menunjukkan hasil, Sumatera Barat memiliki peluang untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi di sisa tahun 2025. Namun, tantangan fiskal dan distribusi pangan tetap perlu diwaspadai agar momentum pemulihan tidak terhambat.(FA)

Penulis. : FA

Editor. : Red minakonews