Suasana penutupan Festival.(Foto : d®amlis).
Padang (Sumbar), MINAKONEWS.COM – Disaat jalanan Padang bersiap menghadapi demonstrasi besar, sebuah ruang damai dan reflektif justru tumbuh di sudut kota: Fabriek Padang di sinilah Festival Pekan Nan Tumpah 2025_ digelar selama sepekan penuh, dari 24 hingga 30 Agustus, menghadirkan pertunjukan seni, pameran, ekshibisi, dan pelatihan kreatif lintas komunitas.
Dengan tema unik: Seni Murni, Seni Terapan, Seni Terserah: Kalau Kamu Paham Semua Ini, Mungkin Kamu Salah Paham”_, festival ini menjadi ruang temu bagi seniman, pelajar, pengrajin, dan warga biasa untuk saling belajar dan berekspresi.
Direktur Festival, Mahatma Muhammad, menyebut bahwa Pekan Nan Tumpah bukan sekadar acara seni, melainkan ruang renung dan dialog. “Kami tidak mencita-citakan festival ini menjadi hal yang menyaingi festival nasional, cukup sebagai ruang temu gagasan,” ujarnya.
Tahun ini, festival didukung oleh Dana Indonesiana dan LPDP, menampilkan:
17 kelompok ekshibisi dari sanggar tradisi, sekolah, dan komunitas anak-anak
38 peserta pameran seni, dari maestro seperti Bodi Dharma hingga perupa muda yang masih duduk di bangku SMP
16 kelompok pertunjukan seni, termasuk teater fisik, musik eksperimental, dan instalasi visual
8 mitra komunitas kriya yang memberi pelatihan gratis untuk anak-anak
Kurator Nessya Fitryona menyebut bahwa karya yang tampil tidak hanya lukisan, tapi juga instalasi tiga dimensi dan karya berbasis kecerdasan buatan. “Ada peserta dari bidang non-seni seperti optometri yang ikut lewat sistem open call. Inilah semangat seni terserah,” katanya.
Di tengah tensi sosial yang meningkat, Pekan Nan Tumpah menjadi ruang alternatif: bukan untuk melarikan diri, tapi untuk mengingat bahwa ekspresi dan dialog tetap punya tempat. Di Padang, seni bukan hanya hiburan.ia adalah cara bertahan.(d®amlis).
Penulis. : d®amlis
Editor. : Red minakonews
