Indeks

In Memoriam Antasari Azhar: Tegas Menjaga Integritas, Menginspirasi Sumbar

Antasari Azhar wafat, wariskan semangat antikorupsi dan edukasi hukum hingga ke ranah Minang.(Dok. Wikipedia).

Jakarta (DKI). MINAKONEWS.COM — Indonesia kehilangan sosok pejuang integritas. Antasari Azhar, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2007–2009, wafat pada Sabtu, 8 November 2025 dalam usia 72 tahun. Jenazah disalatkan di Masjid Asy-Syarif BSD dan dimakamkan di San Diego Hills, Karawang.

Selama menjabat di KPK, Antasari dikenal sebagai figur yang berani dan konsisten dalam menegakkan hukum. Ia memimpin KPK di era paling agresif pemberantasan korupsi, dengan sejumlah pengungkapan kasus besar yang melibatkan pejabat tinggi. Di bawah kepemimpinannya, kepercayaan publik terhadap KPK mencapai puncaknya, menjadikan lembaga tersebut simbol harapan rakyat dalam melawan korupsi.

Di Sumatera Barat, kiprahnya tercatat dalam berbagai kegiatan edukasi antikorupsi, penguatan sistem pengawasan daerah, dan pembinaan generasi muda hukum. Ia beberapa kali hadir di Padang dan Bukittinggi untuk berdialog dengan mahasiswa, aparat penegak hukum, dan tokoh masyarakat.

“Pak Antasari pernah bicara langsung di kampus kami soal pentingnya keberanian dalam menindak korupsi, tanpa pandang bulu. Itu sangat membekas,” ujar Riko, mahasiswa hukum di Padang.

Kehadirannya di Sumbar tidak hanya bersifat seremonial. Ia aktif mendorong penguatan lembaga pengawasan internal pemerintah daerah dan mendukung pelatihan integritas bagi ASN. Dalam beberapa forum, Antasari menekankan bahwa pemberantasan korupsi harus dimulai dari keteladanan dan sistem yang transparan.

Perjalanan hidupnya juga diwarnai ujian berat. Pada 2009, Antasari dijatuhi hukuman pidana dalam kasus pembunuhan berencana yang menimbulkan kontroversi luas. Banyak pihak mempertanyakan proses hukum yang menjeratnya. Setelah menjalani hukuman selama tujuh tahun, ia bebas bersyarat pada 2017 dan menerima grasi dari Presiden Joko Widodo. Sejak itu, ia kembali aktif berdialog dengan masyarakat, mendorong rekonsiliasi hukum yang berkeadilan, dan tetap menyuarakan pentingnya integritas dalam penegakan hukum.

“Beliau tidak hanya menindak, tapi juga mendidik. Itu yang membuatnya dihormati di Sumbar,” ungkap seorang mantan pejabat daerah yang pernah berdiskusi langsung dengannya.

Kepergian Antasari Azhar menjadi kehilangan besar bagi dunia hukum Indonesia. Di Sumatera Barat, semangatnya akan terus hidup dalam gerakan integritas dan pendidikan hukum yang ia wariskan.

Penulis: DRJ/d®amlis
Editor. : Red. Minakonews.com