Asap karhutla ganggu kesehatan dan ekonomi petani Sumbar, 1.450+ hektare lahan terbakar sepanjang 2025. Pemerintah siagakan patroli terpadu dan larang pembakaran lahan (d®amlis/Dur Mandala Putra).
Padang (Sumbar). MINAKONEWS – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di Sumatra dan Kalimantan turut berdampak ke Sumatera Barat. Sejumlah daerah rawan seperti Pesisir Selatan, Pasaman Barat, Sijunjung, dan Lima Puluh Kota mulai terpantau titik api sepanjang musim kemarau 2026.
Data Dinas Kehutanan Sumbar mencatat lebih dari 1.450 hektare hutan dan lahan terbakar sepanjang 2025, dengan tren meningkat pada 2026 akibat kemarau panjang dan indikasi El Niño. Dampak langsung berupa kabut asap yang menurunkan kualitas udara, memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serta mengganggu aktivitas belajar dan ekonomi masyarakat.
Kerugian ekonomi juga signifikan. Sektor pertanian terganggu karena banyak lahan dibuka dengan cara membakar, sementara distribusi hasil panen terhambat oleh kabut asap. Secara nasional, kerugian akibat karhutla 2026 diperkirakan mencapai Rp39,29–123,1 triliun, dengan biaya kesehatan mencapai Rp93,56 triliun.
Gubernur Sumbar Mahyeldi telah memimpin Apel Siaga Karhutla di Agam pada Mei 2026, menekankan pentingnya koordinasi lintas instansi. TNI, Polri, BPBD, dan Dinas Kehutanan dikerahkan untuk patroli terpadu, deteksi dini hotspot, serta edukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Pemerintah provinsi menegaskan prioritas pencegahan dan penanganan cepat, agar kabut asap tidak meluas dan mengganggu aktivitas masyarakat Sumbar.
Penulis: Dur Mandala Putra
Editor. : Red. Minakonews.com
