Indeks

Ketua BEM UGM Teguh Hadapi Teror Usai Kritik Tragedi Anak di NTT

Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, teguh menghadapi teror usai kritik tragedi anak di Ngada (NTT).(Ilustrasi: Akun media sosial pribadi Tiyo Ardianto).

Yogyakarta (DIY). MINAKONEWS – Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, menegaskan tidak gentar meski mengalami serangkaian teror setelah mengkritik tragedi seorang anak di Ngada (NTT), yang diduga meninggal karena tidak mampu membeli alat tulis seharga Rp10.000. Dalam pernyataannya, Tiyo menyebut teror tidak akan menghentikan suara mahasiswa, dan menegaskan dirinya akan terus baik-baik saja berkat doa rakyat Indonesia.

Tragedi di Ngada (NTT), yang menimpa seorang anak berusia 10 tahun karena tidak mampu membeli alat tulis seharga Rp10.000, dinilai Tiyo sebagai bukti nyata kegagalan negara dalam menjamin hak pendidikan anak. Kritik keras yang ia sampaikan kepada UNICEF kemudian berujung pada serangkaian teror, mulai dari ancaman penculikan hingga penguntitan oleh orang tak dikenal.

Akademisi dan anggota DPR mengecam tindakan tersebut, menyebutnya sebagai upaya membungkam suara mahasiswa. Publik pun menunjukkan solidaritas melalui dukungan moral dan doa. Meski demikian, Tiyo menegaskan dirinya tidak akan berhenti bersuara demi rakyat, seraya menekankan bahwa doa dan dukungan publik membuatnya tetap tegar.

Kasus ini menegaskan bahwa suara mahasiswa bukan sekadar kritik, melainkan bagian dari denyut demokrasi yang harus dijaga. Teror terhadap Ketua BEM UGM menunjukkan rapuhnya ruang kebebasan berpendapat, sementara tragedi anak di NTT memperlihatkan betapa mendesaknya perlindungan hak dasar warga negara. Keteguhan Tiyo Ardianto menjadi simbol bahwa keberanian bersuara tidak boleh padam, sebab demokrasi hanya akan hidup bila rakyat berani menolak bungkam.

Penulis: Dur Mandala Putra
Editor. : Red. Minakonews.com