Generasi muda Peramin menyerahkan bantuan langsung ke warga, solidaritas yang tak kenal usia.(Foto Dok. Ist).
Oleh : Dur Mandala
Padang (Sumbar), MINAKONEWS.COM – Malam itu hujan baru saja reda. Jalan menuju Malalak gelap, licin, dan penuh lumpur akibat longsor. Di tengah kondisi yang membuat banyak orang memilih bertahan di rumah, sekelompok relawan Peramin justru melangkah maju, membawa nasi bungkus dan obat-obatan di punggung mereka.
Kisah di Balik Solidaritas
Gerakan Peramin (Pemanah Ranah Minang) lahir dari semangat gotong royong masyarakat Minangkabau. Donasi Rp2.700.000 yang terkumpul disalurkan dalam bentuk konsumsi harian, obat-obatan, dan dukungan moral. Tradisi kebersamaan kembali hidup di tengah bencana.
Wajah Relawan di Lapangan
Nama-nama seperti Atikah di Payakumbuh, Abu Kanza dari Rufaidah Humanity Care di Solok, dan Rahayu Mahdalena di Padang menjadi wajah perjuangan. Namun sosok Rizal Salayan, koordinator lapangan, tampil sebagai figur sentral. Ia memimpin tim menembus medan longsor, memastikan setiap sumbangan sampai ke tangan warga yang membutuhkan.
Perjuangan Menembus Malalak
Akses jalan terputus, cuaca gelap, dan medan longsor menjadi tantangan besar. Relawan harus menyalurkan bantuan secara estafet, berjalan kaki menembus lumpur. Di posko I, 20 keluarga menunggu dengan cemas. Di Sungai Landia, warga masih menanti sekotak nasi bungkus untuk mengganjal lapar.
Suara dari Lapangan
“Turun ke lokasi bencana membuat kita malu. Warga di sana bukan memikirkan apa yang mereka makan besok, tapi apa yang bisa mereka makan hari ini,” ungkap seorang relawan.
Rizal menambahkan, “Solidaritas ini bukan sekadar bantuan, ini pengingat bahwa kita tidak pernah sendirian.”
Refleksi
Kisah Peramin menunjukkan bagaimana komunitas lokal mampu bergerak cepat dan efektif, bahkan ketika akses formal terhambat. Di balik keterbatasan, ada keberanian yang lahir dari budaya gotong royong. Figur seperti Rizal Salayan memperlihatkan bahwa kepemimpinan warga biasa bisa menjadi garda terdepan dalam merespons bencana.
Penutup
Solidaritas yang lahir dari akar budaya Minangkabau menjadikan Peramin lebih dari sekadar komunitas. Mereka adalah pengingat bahwa di balik setiap bencana, ada tangan-tangan yang rela menembus gelap demi membawa harapan.
—
Wajah Warga
– Rizal Salayan: “Solidaritas ini bukan sekadar bantuan, ini pengingat bahwa kita tidak pernah sendirian.”
– Atikah: “Saya hanya ingin memastikan nasi bungkus itu sampai ke tangan ibu-ibu di posko.”
Minakonews Bicara
Solidaritas Peramin adalah cermin kekuatan masyarakat sipil. Semoga gerakan ini terus mendapat dukungan agar distribusi bantuan semakin merata ke seluruh daerah terdampak.
Penulis : Dir Mandala
Editor. : Red minakonews
