Tanah Datar (Sumbar), MINAKONEWS.COM – Selagi Ombak dengan pasir belum selesai berperang, masalah sesama antar manusia juga belum akan usai. Apalagi menyangkut akan tanah akibat manusia terus bertambah jumlahnya. Sementara tanah hanya satu kali dibuat Alloh Tuhan Yang Maha Kuasa, karena untuk mati hanya 80 X 200 Cm saja.
Oleh karena itu satu pendapat, benteng negara dengan pihak swasta bukanlah hal yang luar biasa. Dalam ketentaraan dikenal dengan mengenang jasa-jasa para pahlawan. Sementara pihak swasta menyebutnya, berziarah ke kuburan dalam rangkaian acara mengingat jasa orang yang telah mendahului kita.
Pendapat tersebut merupakan satu kesatu an yang diwujudkan oleh Jenderal Doni Monardo (DHC) (purn) dengan H.Amrizal Amra pensiunan swasta asing. Satu pendapat itu bukan hanya karena bersepupu, melainkan akan tetapi memang ada kesamaan. Antara lain dalam sesuatu waktu tertentu, misalnya sama berziarah ke Pondam pakuburan Dt.Madjo Kando yang berada pada seberang jalan objek perkara No.12/ Pdt.G/2022/PN.Bsk.
Disamping itu diketahui Djilin Dt.Madjo Kando satu dari 4 isterinya bernama Cayo ramu, diantara anaknya adalah HjRoslina dan diantara anak HjRoslina itu bernama Doni Monardo. Seiring dengan itu Djilin Dt. Majo Kando dengan isterinya Amaimanih lahirlah Baniara dan Baniara menikah dengan Amiruddin Dt.Majo Kando lahir anak tertuanya Amrizal (Haji Amrizal Amra). Karena itu antara H.Amrizal Amra dengan Doni Monardo adalah sama-sama keturunan bangsawan Minangkabau.
Namun Amrizal setamat dari SMP merantau ke Jakarta. Pada lbu kota negara Amrizal selalu bekerja dipihak swasta asing yang bergerak dalam bidang Farmasi. Perusahaan tempat ia bekerja adalah milik swasta orang asing dan selama bekerja tetap mengutamakan karir.
Justru itu ia bekerja dari bawah dan meningkat menjadi Kepala Regional Jakarta. Selanjutnya pindah ke Palembang yang juga menjadi Kepala Regional di Palembang. Sebagai Pimpinan Regional Palembang ia membawahi separoh dari Pulau Sumatera.
Atas kesuksesannya menjadi Pimpinan Re gional Palembang oleh atasannya ia dipindahkannya ke Surabaya. Selama di Jawa Timur itu, putra Kampuang Gadang Simpang Ampek Bulakan Sungai Tarab, Tanah Datar Sumbar ini juga menjadi Kepala Regional yang berprestasi. Namun ia tetap bertolak mencari prestasi dan dedikasi, oleh pemilik perusahaan Farmasi itu ia dipindahkan kembali ke lbu Kota Negara sebagai pucuk Pimpinan yang membawahi seluruh wilayah lndonesia sampai pensiun.
Sementara Doni Manardo yang sama-sa ma aliran air Dt.Majo Kando bergerak dalam bidang militer. Justru dari kecil jiwa sportif dan ketentaraannya sudah terlihat sebagai pemimpin. Yang selama mengabdi dan bertugas juga mengutamakan karir. Sehubungan dengan itu Doni Monardo sampai mendapat penghargaan Doktor Honoris Causa (DHC) dari Swis.
Hingga kini sudah pensiun, namun pemiki ran dan tenaganya masih dibutuhkan dan tetap dipergunakan oleh negara R.I. Antara lain sebagai Ketua Pencari Fakta atas kejadian Kanjuruan yang menelan lebih dari 100 nyawa dll nya. Kesamaan pendapat kedua putra Luhak Tanah Datar ini dalam bertugas antara lain yang dapat di rekam MinakoNews;
Selaku mantan Komandan dan senior manager/ Pimpinan ini berpesan terhadap bawahannya agar jangan salah berfikir. Antara lain pesannya, bagi para pekerja yang sedang berkarir, yangan salah menjatuhkan pilihannya dan akan berusaha dengan cara apapun untuk mendapatkan banyak uang.
Karena dia berpendapat, dengan uang yang banyak itu bisa merobah kehidupan. Jika begitu hasil pemikiran, itulah kesalahan yang fatal. Karena yang sesungguhnya, berjuanglah untuk karir, karena karir yang baik, uang dan fasilitas pasti akan mengikutinya.
Dengan sependapat itu, diantaranya Oktober lalu sama-sama mencor jalan ke makam Djilin Dt. Madjo Kando. Semenjak itu Pondam Pakuburan tersebut telah apik dan cerah. Kendati pun H. Amrizal Amra anak dari Dt.Majo Kando itu masih menunggu putusan perkara hartanya yang digugat orang dari Kampai Kutianyie Cakuang. (Datuok)
