Mak Etek Zuhrizul, kalau anak-anak kita tak bisa sekolah karena biaya, lalu apa gunanya APBD.(Foto : FA).
Padang (Sumbar), MINAKONEWS.COM – Juli 2025. Di tengah dinamika politik dan birokrasi Sumatera Barat, sosok Muhammad Zuhrizul hadir sebagai tokoh relawan yang tak hanya berdiri di belakang kekuasaan, tetapi berani menyuarakan kritik tajam demi pembenahan sistem pendidikan daerah. Ia bukan pejabat, bukan pengambil kebijakan, namun gagasannya menggema dan menggugah kesadaran publik bahwa pendidikan bukan sekadar urusan administrasi atau anggaran, melainkan menyangkut keberpihakan terhadap generasi penerus.
Berangkat dari latar belakang jurnalisme dan gerakan sosial, Zuhrizul kini menjabat sebagai Ketua Relawan Mahyeldi–Vasko. Meski perannya kerap diidentikkan dengan dukungan politik, ia menunjukkan keberanian berbeda ketika secara terbuka mendukung desakan DPRD Sumbar agar Gubernur mengevaluasi kinerja Kepala Dinas Pendidikan. Dalam forum publik, Zuhrizul menyatakan bahwa tidak adanya inovasi dan berulangnya masalah klasik menuntut keberanian gubernur mengambil keputusan besar demi masa depan anak-anak Sumbar.
Pria kelahiran Agam, 12 Maret 1972 yang diakrabi “Maketek” ini juga menyoroti nasib siswa dari keluarga kurang mampu, yang masih kesulitan melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya. Menurutnya, program seperti Beasiswa Rajawali adalah langkah konkret yang patut diperluas. Zuhrizul menyambut baik rencana kenaikan anggaran beasiswa dari Rp5,7 miliar menjadi Rp10 miliar, dan menyebutnya sebagai bentuk nyata keberpihakan pemerintah. “Kalau anak-anak kita tak bisa sekolah karena biaya, lalu apa gunanya APBD?” ujarnya dalam satu kesempatan.
Tak hanya itu, ia mendorong pemerintah membuka ruang kontribusi swasta melalui skema dana hibah abadi. Puluhan perusahaan sawit, tambang, dan jasa di Sumbar, menurutnya, dapat ikut menanam dana yang dikelola secara transparan, dan manfaatnya disalurkan dari bunga simpanan. “Kalau perusahaan bisa untung besar dari Sumbar, mereka juga bisa bantu generasi penerusnya,” tegasnya.
Pandangan dan gerakan Zuhrizul sejalan dengan gagasan para tokoh pendidikan nasional. Tan Malaka pernah menulis bahwa “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan.” Ki Hajar Dewantara mengingatkan bahwa “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Semangat inilah yang terlihat hidup dalam advokasi yang dibawakan Zuhrizul.
Visi pendidikan yang ia usung meliputi reformasi SDM pendidikan daerah, penerapan nilai-nilai budaya lokal Minangkabau seperti ABS-SBK dalam kurikulum, dan transformasi digital di sekolah-sekolah terpencil. Ia juga mendorong peningkatan partisipasi swasta secara berkelanjutan dalam pembiayaan pendidikan.
Di luar advokasi pendidikan, Muhammad Zuhrizul juga dikenal sebagai tokoh visioner dalam pengembangan pariwisata Sumatera Barat. Ia adalah pionir Kawasan Wisata Mandeh di Pesisir Selatan, yang kini dijuluki “Raja Ampat dari Pantai Barat Sumatera” dan telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Ia juga pemilik Lawang Park di Agam, destinasi ekowisata yang mengusung konsep edukasi dan pelestarian alam, serta inisiator Marawa Beach Club di Kota Padang yang memadukan leisure, budaya lokal, dan ekonomi kreatif. Kiprahnya diperkuat melalui peran sebagai Wakil Ketua Umum Kadin Sumbar, Dewan Penasihat DPD ASITA Sumbar, dan Ketua Tim Pengembangan serta Pendampingan Desa Wisata (TP2DW) yang telah membina ratusan Pokdarwis. Bagi Zuhrizul, pariwisata bukan sekadar soal panorama, tetapi tentang membangun peradaban dan memberdayakan masyarakat. “Geopark itu bukan hanya tentang batuan dan keindahan alam, tapi tentang bagaimana kita mendidik masyarakat agar mencintai dan merawat warisan bumi,” ujarnya.
[1/8 10.57] Fitri Adonna: Melalui kiprahnya, Muhammad Zuhrizul membuktikan bahwa gerakan relawan tak harus identik dengan euforia kampanye. Ia menjadikan advokasi pendidikan dan pariwisata sebagai panggung perjuangan. Dari forum diskusi hingga barisan desakan publik, suaranya menjadi penanda bahwa perubahan bisa dimulai dari keberanian, bukan kekuasaan.(FA)
Penulis. : FA
Editor. : Red minakonews
