Indeks

Padang Ecowaste Project : Dari Kota Penuh Sampah ke Pusat Ekonomi Sirkular Sumatera

Jose, pengelola sampah di Pasia Jambak, Padang.(Foto : FA).

Padang (Sumbar), MINAKONEWS.COM – Kota Padang sedang menulis babak baru dalam sejarah pengelolaan sampah. Lewat program ambisius bernama Padang Ecowaste Project, kota ini tak lagi sekadar membuang sampah ke TPA, tapi mulai mengubahnya menjadi sumber daya ekonomi dan energi alternatif.

Sampah : Ancaman atau Peluang

Menurut data terbaru, Padang menghasilkan sekitar 647 ton sampah per hari. Dari jumlah itu, sekitar 478 ton berhasil ditangani, 141 ton berhasil dikurangi, dan masih ada sekitar 28 ton yang tidak tertangani.

Mayoritas sampah berasal dari rumah tangga dan sektor publik, dengan sisa makanan sebagai komposisi terbesar. Ironisnya, sebagian besar sampah masih dibuang langsung ke TPA tanpa pemilahan, menyebabkan kerugian ekonomi dan lingkungan yang signifikan.

Inovasi yang Mengubah Paradigma

Padang Ecowaste Project hadir dengan pendekatan ekonomi sirkular. Beberapa terobosan yang sudah berjalan antara lain budidaya maggot untuk mengolah sisa makanan menjadi pakan ternak, bank sampah insentif di mana warga bisa menukar sampah dengan emas, uang, atau tabungan, serta kemitraan industri seperti PT Semen Padang dan PLTU Teluk Sirih yang menjadi off-taker residu untuk bahan bakar alternatif.

Pemerintah juga sedang membangun fasilitas Refuse-Derived Fuel (RDF) berkapasitas 200 ton per hari, yang akan mengubah sampah menjadi energi.

Gerakan dari Akar Rumput

Di tingkat kelurahan, dibentuk Lembaga Pengelola Sampah untuk memperkuat pengelolaan lokal. Kampanye seperti Padang Memilah dan Padang Bagoro mendorong warga untuk memilah sampah dari rumah, bukan sekadar membuang.

Pemerintah telah menyiapkan lahan strategis untuk pusat pemulihan sumber daya terpadu, seperti di Koto Tangah, Simpang Haru, dan Balai Baru.

Menuju Kota Berketahanan Lingkungan

Dengan target pengurangan sampah 30 persen dan penanganan 70 persen pada tahun 2025, Padang tidak hanya mengejar angka, tapi juga membangun budaya baru: bahwa sampah bukan musuh, melainkan peluang.

Proyek ini menjadi contoh nyata bahwa kota di luar Jawa pun bisa memimpin dalam inovasi lingkungan. Padang tak lagi dikenal karena masalah sampahnya, tapi karena keberaniannya menjadikan limbah sebagai sumber daya.(FA).

Penulis. : FA

Editor. : Red minakonews