Pelukan terakhir Erik Andesra di tengah galodo Palembayan.(Foto Dok. Ist).
Agam (Sumbar). MINAKONEWS.COM – Di tengah lumpur dan puing-puing yang menutupi Nagari Anduriang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, satu momen menggetarkan hati publik: Erik Andesra memeluk jenazah sang ibunda, Ernita (58), yang baru saja ditemukan setelah berhari-hari pencarian. Pelukan itu bukan sekadar ekspresi duka, melainkan simbol cinta seorang anak yang menolak menyerah pada takdir.
Sang ibu ditemukan masih mengenakan mukena, seolah baru saja menunaikan salat ketika galodo, banjir bandang yang menggulung kampung mereka merenggut nyawanya. Mukena putih itu menjadi saksi bisu dari akhir yang tenang namun tragis.
Mama saya meninggal dalam keadaan salat. Mayatnya ditemukan masih menggunakan mukena,” ucap Erik dengan suara lirih, Minggu (30/11), sebagaimana dilaporkan sejumlah media nasional.
Erik bukan hanya berduka. Ia berjuang. Demi menemukan sang ibu, ia menyewa alat berat, menggali lumpur, dan menantang medan yang tak bersahabat. Ketika jenazah akhirnya ditemukan, pelukan itu menjadi pelukan terakhir—dan pelukan paling tulus yang pernah terekam di tengah bencana.
Galodo yang melanda Palembayan pada Kamis (27/11) bukan sekadar banjir. Ia membawa lumpur, batu, dan trauma kolektif. Lebih dari seratus korban jiwa tercatat, dan banyak keluarga masih mencari anggota yang hilang. Di tengah kekacauan itu, kisah Erik menjadi titik terang—bahwa cinta dan ketulusan bisa bertahan bahkan di tengah kehancuran.
Hari itu, Erik sebenarnya berencana berangkat kerja ke Pasaman. Namun sang ibu melarang, karena hujan deras terus mengguyur. Larangan itu kini terasa seperti firasat terakhir dari seorang ibu yang ingin anaknya selamat.
Foto pelukan Erik Andesra kini beredar luas. Bukan untuk sensasi, melainkan untuk refleksi. Ia mengingatkan kita bahwa di balik angka korban dan data bencana, ada manusia. Ada anak yang kehilangan ibu, ada pelukan yang tak sempat diucapkan selamat tinggal.
Penulis: Halimah Tusa’diah
Editor. : Red. Minakonews.com
