Indeks

Pulang Dengan Luka Setelah 16 Tahun Mengabdi

16 tahun mengabdi, pulang dengan luka. Guru bukan musuh, mereka pembimbing.(Dok. Ist. Minakonews).

Tanjung Jabung Timur (Jambi). MINAKONEWS – Guru SMKN 3 Tanjab Timur, Agus Saputra, menjadi korban pengeroyokan sejumlah siswa usai menegur seorang siswa yang dinilai bersikap tidak sopan di kelas. Peristiwa ini menambah daftar panjang kekerasan terhadap pendidik di lingkungan sekolah.

Dalam wawancara dengan Jambi TV, Agus mengungkapkan tekanan berat yang ia alami. “Apakah saya harus mengajar sambil meregang nyawa? Lebih baik saya mundur jadi guru,” ucapnya.

Agus mengaku menampar seorang siswa secara spontan karena merasa martabatnya sebagai pendidik dilecehkan. Ia menyebut bahwa selama dua tahun terakhir, dirinya kerap menjadi korban perundungan verbal oleh siswa laki-laki di kelas tersebut.

Pada hari kejadian, Agus berada di sekolah hampir 12 jam. Ia menerima serangan verbal dan upaya kekerasan fisik berulang kali, bahkan saat aparat kepolisian sudah berada di lokasi. Ia mengalami luka lebam di beberapa bagian tubuh dan trauma psikis yang belum pulih hingga kini.

Dalam video lain yang beredar, Agus terlihat sempat mengambil sebilah clurit dari gudang penyimpanan alat sekolah. Ia mengaku tindakan itu dilakukan semata-mata untuk menggertak siswa yang terus mengejarnya, bukan untuk melukai. “Saya hanya ingin mereka berhenti menyerang. Saya tidak pernah berniat menyakiti siapa pun,” ujarnya dalam klarifikasi yang dikutip dari sejumlah media nasional.

Meski telah menerima permintaan maaf dari siswanya, keluarga Agus memilih menempuh jalur hukum. Nasir, kakak kandung Agus, menyebut dua kali mediasi yang dilakukan sekolah tidak melibatkan pihak keluarga dan tidak menjamin keselamatan adiknya. “Setelah mediasi, malah muncul lagi narasi yang menyudutkan dia. Kami akhirnya lapor ke Polda Jambi untuk mencari keadilan,” ujar Nasir.

Gubernur Jambi, Al Haris, menyatakan bahwa Guru Agus Saputra akan dimutasi dari SMKN 3 Berbak dan diminta menjalani tes kejiwaan. Langkah ini diambil sebagai bentuk evaluasi menyeluruh terhadap peristiwa yang terjadi, sekaligus untuk menjaga kondusivitas lingkungan sekolah. Gubernur juga menyebut bahwa pernyataan Agus yang dianggap menghina profesi orang tua siswa turut memicu ketegangan di sekolah.

Selain laporan dari pihak keluarga Agus, salah satu siswa berinisial LF (16) juga melaporkan balik Guru Agus ke Polda Jambi atas dugaan penganiayaan. Laporan tersebut diajukan bersama orang tua dan kuasa hukum, dengan menyertakan bukti luka lebam yang dialami siswa. Kedua laporan kini sedang diproses oleh pihak kepolisian.

Dalam wawancara dengan Okezone, Agus juga menyampaikan kekecewaannya terhadap sebagian rekan guru yang dinilai membiarkan situasi ini berlarut-larut. “Saya tidak hanya melaporkan siswa, tapi juga kepala sekolah dan guru-guru tertentu yang membiarkan kondisi ini terus terjadi,” tegasnya.

Ia menambahkan, perlakuan buruk dari siswa bukan hanya dialami dirinya, tapi juga dirasakan oleh guru-guru lain. “Saya tahu saya bukan satu-satunya. Tapi saya tidak bisa terus diam,” katanya.

Agus telah melaporkan kasus ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi dan menyimpan bukti video serta rekaman CCTV, termasuk saat dirinya dilempar batu.

Kasus ini memicu gelombang solidaritas publik. Tagar #Save Guru Agus dan #Solidaritas Pendidik ramai di media sosial, menuntut perlindungan lebih bagi para guru dan evaluasi sistem penyelesaian konflik di sekolah.

Penulis: Halimah Tusa’diah
Editor. : Red. Minakonews