Indeks

Sejarah Budaya Sumatera Barat: Bukan Sekadar Warisan, Tapi Perjuangan

Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan (Dok. Ist.)

Padang (Sumbar), MINAKONEWS.COM – 30 Agustus 2025. Di tengah riuhnya wacana budaya yang kian kompleks, Forum Perjuangan Seniman Sumatera Barat kembali menggelar diskusi dwi-bulanan yang mengangkat tema reflektif: “Akulturasi Budaya dan Perubahan Sosial dalam Perspektif Sejarah.” Bertempat di Padang, diskusi ini menghadirkan Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan sebagai narasumber utama, bersama dua tokoh budaya lainnya: Reni Marlina dan Darman Sutan.

Gusti Asnan, guru besar ilmu sejarah Universitas Andalas, membuka paparan dengan menyatakan, akulturasi budaya di Sumatera Barat bukanlah proses pasif atau harmonis, melainkan hasil dari negosiasi identitas, resistensi sosial, dan dominasi kekuasaan. Ia memetakan perjalanan budaya Minangkabau sejak akhir abad ke-17, mulai dari masa VOC, Inggris, Hindia Belanda, hingga era Republik dan Reformasi.

Akulturasi bukan sekadar adopsi budaya luar. Ia adalah proses tarik-ulur antara menerima dan menolak, antara mempertahankan dan menyesuaikan,” ujar Gusti.

Ia menyoroti bagaimana penguasa—baik kolonial maupun nasional—selalu memainkan peran dalam menentukan arah budaya dominan. Di masa VOC, struktur kolonial membentuk elite baru yang mengadopsi gaya hidup Belanda. Di era Orde Baru, kebijakan Jawanisasi dan Golkarisasi menggeser identitas lokal ke arah homogenisasi nasional. Bahkan di era Reformasi, ketika gerakan “Kembali ke Nagari” dan “Kembali ke Surau” muncul, dominasi etnik non-Minangkabau di jabatan publik tetap menjadi kenyataan yang tak bisa diabaikan.

Paparan Gusti juga menyingkap perubahan sosial yang lahir dari proses akulturasi: terbentuknya kaum bangsawan, pejabat kolonial, elit terpelajar, hingga gaya hidup kebarat-baratan yang meresap ke dalam masyarakat kota. Ia menyebut bahwa daerah pinggiran seperti Pasaman dan Mentawai mengalami hibridisasi budaya yang khas, sering kali di luar radar narasi resmi sejarah Minangkabau.

Diskusi semakin hidup ketika Reni Marlina, seniman teater dari Payakumbuh, menambahkan perspektif seni pertunjukan. Ia menyebut, pertunjukan tradisional seperti randai dan saluang kini sering dikombinasikan dengan elemen modern, namun tetap membawa nilai lokal yang kuat. “Akulturasi dalam seni bukan berarti kehilangan identitas. Justru di situ kita bisa melihat daya lenting budaya kita,” katanya.

Darman Sutan, budayawan dari Solok Selatan, turut menyumbang pandangan tentang perubahan dalam struktur kepemimpinan adat. Menurutnya, gelar penghulu kini tidak hanya diwariskan secara genealogis, tetapi juga melalui proses politik dan pendidikan formal. “Ini bentuk lain dari akulturasi yang sering kita abaikan,” ujarnya.

Diskusi malam itu bukan sekadar akademik. Ia menjadi ruang reflektif, tempat di mana sejarah tidak hanya dibaca sebagai masa lalu, tetapi sebagai cermin untuk memahami masa kini. Di tengah arus globalisasi dan tekanan homogenisasi budaya, paparan Gusti Asnan mengingatkan bahwa identitas lokal selalu lahir dari proses tarik-ulur yang panjang dan penuh tantangan.

Sejarah bukan hanya tentang apa yang terjadi, tapi tentang siapa yang menentukan apa yang dianggap penting,” tutup Gusti, disambut tepuk tangan hangat dari peserta.

Biodata Narasumber

Nama: Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan
Tempat, Tanggal Lahir: Lubuk Sikaping, Pasaman, Sumatra Barat, 12 Agustus 1962
Usia: 63 tahun
Kebangsaan: Indonesia
Pendidikan:
– Universitas Andalas, Padang
– Universitas Bremen, Jerman
Profesi: Guru Besar Ilmu Sejarah, Universitas Andalas
Jabatan Terdahulu: Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unand (2013–2017)
Orang Tua: Syahminan (ayah), Asyiah (ibu).(d®amlis).

Penulis. : d®amlis

Editor. Red minakonews