Peluncuran buku ‘Salingka Benang Kehidupan’ di Museum Nasional, Jakarta—momen penghormatan bagi Tante Atitje, tokoh pelestarian tenun dan budaya Minangkabau (Foto Dok. Pemkab).
Jakarta (DKI Jakarta). MINAKONEWS.COM – Di tengah semarak budaya di Museum Nasional Medan Merdeka Barat, Jakarta, Bupati Tanah Datar Eka Putra, SE, MM menghadiri peluncuran buku _Salingka Benang Kehidupan_ karya Puan Puti Reno Sativa Sutan Aswar. Buku ini mengangkat kisah hidup dan perjuangan seorang tokoh pelestari budaya Minangkabau yang dikenal sebagai Tante Atitje.
Menurut Bupati Eka Putra, peluncuran buku ini bukan sekadar perayaan literasi, tetapi penghormatan atas dedikasi seorang perempuan yang telah mengabdikan hidupnya untuk merawat warisan budaya. “Di Tanah Datar, kami memanggil beliau sebagai Tante Atitje. Beliau bukan hanya peneliti tenun dan songket, tapi juga pelaku langsung pelestarian budaya. Ia turun gunung, masuk kampung, menyambung benang-benang yang hampir putus,” ujarnya.
Acara peluncuran turut dihadiri tokoh nasional seperti Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto selaku Ketua Himpunan Ratna Busana, Ibu Mufida Jusuf Kalla (Istri Wapres RI ke-10 dan ke-12), Ketua Yayasan Serumpun Bumi Melayu Nuning Wahyuniati, Didit Hedi Prasetyo, Ny. Nina Akbar Tanjung, Ny. Kartini Sjahrir, Ny. Yani Hartoto, Ny. Sri Harmoko, serta tamu undangan lainnya.
Bupati Eka Putra menuturkan bahwa Tante Atitje rela meninggalkan kenyamanan kota demi menyatu dengan alam dan masyarakat. Ia mengajarkan teknik menenun kepada ibu-ibu dan anak-anak gadis di kampung, bahkan masuk hutan untuk mencari pewarna alami. “Saya menjadi saksi mata. Tante Atitje menempuh jalan tanah, mendaki dan menurun, demi menjaga warisan batin nusantara yang tak ternilai,” tambahnya.
Di tangan Tante Atitje, alat tenun bukan sekadar kayu dan benang, melainkan simbol cinta—cinta pada budaya, perempuan, dan leluhur Indonesia. Bupati menegaskan bahwa kekuatan Tanah Datar terletak pada budayanya yang tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas. Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah menjadi fondasi yang tak tergantikan.
Pelestarian tenun dan songket sebagai budaya benda, menurut Bupati, harus terus diwariskan melalui pendidikan informal dan pemahaman mendalam kepada generasi muda. Karena itu, buku ini akan disebarkan ke sekolah-sekolah di Tanah Datar sebagai sumber inspirasi dan motivasi.
“Dalam setiap helai tenun, ada kisah tentang perjuangan dan kemandirian perempuan. Dalam setiap kalimat, ada semangat bahwa nilai lama bisa hidup dalam dunia modern,” ungkap Eka Putra.
Di akhir sambutannya, Bupati menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas dedikasi Tante Atitje yang telah mengabdikan hidupnya untuk melestarikan budaya Minangkabau hingga ke pelosok negeri.
Penulis: DRJ
Editor. : Red. Minakonews.com
