Indeks

Thawalib Lembaga Islam Bersejarah Didorong Jadi Pusat Pembaruan Pemikiran

Buya Alizar resmi dilantik sebagai Pimpinan Thawalib Padang Panjang, dorong pembaruan pemikiran Islam berkemajuan (Foto Dok. Kominfo).

Padang Panjang (Sumbar). MINAKONEWS – Perguruan Thawalib Padang Panjang kembali menegaskan peran strategisnya sebagai pusat pembaruan pemikiran Islam dengan dilantiknya Buya Drs. H. Alizar Chan, M.Ag. DT. Sindo Marajo sebagai pimpinan periode 2025–2027. Pelantikan berlangsung Sabtu (10/1-2026) di Aula Abdul Karim Amrullah, dipimpin langsung oleh Ketua Pengurus Yayasan Thawalib, Prof. Dr. Abrar, M.Ag.

Acara pelantikan turut dihadiri Wakil Wali Kota Padang Panjang Allex Saputra, Ketua Pembina Yayasan Thawalib Guspardi Gaus, unsur Kementerian Agama, tokoh masyarakat, dan civitas akademika. Dalam sambutannya, Wawako Allex menyampaikan harapan agar Thawalib tidak hanya dipertahankan sebagai lembaga pendidikan Islam bersejarah, tetapi juga tampil sebagai pusat lahirnya gagasan keislaman yang responsif terhadap tantangan zaman.

“Thawalib memiliki sejarah besar dalam membentuk pemikiran Islam di Indonesia. Ke depan, Thawalib diharapkan mampu melahirkan pemikiran Islam yang moderat, berkemajuan, dan tetap berpijak pada tradisi keilmuan yang kuat,” ujar Allex. Ia juga menegaskan komitmen Pemko Padang Panjang dalam mendukung penguatan pendidikan Islam sebagai bagian dari strategi menyiapkan generasi emas menghadapi bonus demografi.

Buya Alizar bukan sosok baru bagi Thawalib. Ia merupakan alumnus sekaligus mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Padang Panjang yang telah lama mengabdi sebagai guru dan pengurus yayasan. Penetapannya sebagai pimpinan dilakukan melalui mekanisme yang menjaring figur dengan pemahaman utuh terhadap sejarah, nilai, dan arah pengembangan Thawalib.

Dalam sambutannya, Buya Alizar menyebut amanah ini sebagai tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan inovasi, kerja kolektif, dan semangat kebersamaan. Ia menekankan pentingnya sinergi antara Thawalib, Pemko Padang Panjang, dan Kementerian Agama agar lembaga ini tidak berjalan sendiri dalam membangun masa depan pendidikan Islam.

Ketua Pengurus Yayasan, Prof. Abrar, mengingatkan bahwa Thawalib telah menempuh perjalanan lebih dari satu abad sejak berdiri di Surau Jembatan Besi. “Sejarah Thawalib bukan untuk dinikmati sebagai nostalgia, melainkan menjadi pijakan menata masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Sementara itu, Guspardi Gaus menambahkan bahwa Buya Alizar memiliki rekam jejak lengkap sebagai murid, guru, dan pengurus. Ia berharap Buya mampu melakukan pembenahan dan pembaruan, termasuk penguatan karakter lulusan, pengembangan kurikulum dan silabus, serta formulasi muadalah agar Thawalib tetap relevan dan berdaya saing di tingkat nasional dan internasional.
Penulis : Halimah Tusa’diah
Editor. : Red. Minakonews.com