Indeks

Tragedi Nelayan di Perairan Padang: Dua Tewas, Satu Selamat Usai Perahu Terbalik Dihantam Cuaca Buruk

Tim SAR Padang mengevakuasi salah satu korban selamat dari tragedi perahu terbalik di perairan antara Pulau Pisang dan Pulau Sinyaru, Minggu malam (14/9).(d®amlis/AI).*

Padang (Sumbar), MINAKONEWS.COM – Cuaca ekstrem kembali menelan korban di perairan Sumatera Barat. Sebuah perahu nelayan yang berisi tiga orang terbalik di antara Pulau Pisang dan Pulau Sinyaru, Kota Padang, pada Minggu malam (14/9), menyebabkan dua orang meninggal dunia dan satu lainnya berhasil selamat.

Ketiga nelayan tersebut diketahui berangkat melaut dari Muaro Padang pada pukul 05.00 WIB. Mereka adalah Dian Arlis (54), Afrizal (50), dan Zulhendri (42). Menjelang malam, saat hendak kembali ke daratan, perahu mereka dihantam gelombang tinggi dan angin kencang yang tiba-tiba mengamuk di tengah laut.

Dalam kondisi hujan deras dan angin yang menggila, perahu terbalik. Zulhendri berhasil menyelamatkan diri dengan berenang ke daratan menggunakan pelampung fiber, lalu melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang. Sementara itu, Dian dan Afrizal sempat dinyatakan hilang.

Tim SAR gabungan yang terdiri dari Kantor SAR Kelas A Padang, Polairud, BPBD, Brimob, Damkar, dan PMI langsung bergerak cepat. Operasi pencarian dimulai pada Minggu malam dan dilanjutkan hingga Senin pagi (15/9). Pencarian dilakukan menggunakan RIB 02 dan drone thermal, menyisir area seluas 126 km² yang dibagi ke dalam tiga sektor.

Pada Senin pagi pukul 07.35 WIB, jenazah Dian Arlis ditemukan di koordinat 0°56’32.118″S – 100°18’12.39″E, sekitar 35 mil laut dari titik terakhir perahu terbalik. Jenazah langsung dievakuasi ke rumah duka. Sementara itu, Afrizal ditemukan dalam kondisi meninggal dunia beberapa jam kemudian, setelah tim SAR memperluas area pencarian ke sisi barat Pulau Sinyaru.

Kepala Kantor SAR Padang, Abdul Malik, menyatakan bahwa operasi pencarian telah ditutup setelah seluruh korban berhasil ditemukan. Ia menyebutkan bahwa cuaca buruk menjadi faktor utama dalam kecelakaan tersebut, dan mengimbau nelayan agar lebih waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem. Pernyataan ini disampaikan dalam laporan resmi yang dikutip oleh WartaminangNews 15 September 2025.

Peristiwa ini memicu evaluasi terhadap sistem peringatan dini dan keselamatan nelayan di wilayah pesisir. Pemerintah daerah bersama BPBD Padang berencana memperketat protokol pelayaran dan memperluas edukasi mitigasi bencana bagi komunitas nelayan. Sementara itu, keluarga korban berharap agar tragedi ini menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan perlindungan bagi para pencari nafkah di laut.

Hingga berita ini ditulis, jenazah kedua korban telah dimakamkan di kampung halaman masing-masing, sementara Zulhendri masih menjalani pemulihan fisik dan psikologis.(d®amlis).

Penulis : d®amlis

Editor. : Red minakonews