Menkeu Purbaya dalam sorotan editorial Minakonews: fiskal stagnan di tengah janji pertumbuhan (Infografis: Minakonews/AI).
Tesis Redaksi
Dana pemerintah sebesar Rp653,4 triliun yang mengendap di perbankan per Agustus 2025 menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas fiskal di tahun pertama pemerintahan Prabowo–Gibran. Di tengah janji pertumbuhan ekonomi 8 persen, uang sebesar itu justru belum bergerak.
*Argumentasi & Fakta Pendukung*
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah menyatakan akan menginvestigasi dana tersebut, yang terdiri dari Rp399 triliun milik pemerintah pusat dan Rp254,4 triliun milik pemerintah daerah. Dana ini tersimpan dalam bentuk giro, deposito berjangka, dan tabungan. Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menyebut bahwa stagnasi penyerapan anggaran menjadi hambatan utama. Bahkan, dana pemerintah yang parkir di Bank Indonesia terus meningkat dari Rp635 triliun pada April menjadi Rp648,4 triliun pada Mei.
Di lapangan, beberapa pemerintah daerah justru mengeluhkan keterbatasan alokasi anggaran, padahal dana besar masih mengendap. Ini menunjukkan adanya ketimpangan antara perencanaan dan eksekusi, serta potensi ketakutan birokrasi terhadap risiko hukum dalam belanja negara.
Seruan & Harapan
Pemerintah perlu segera mempercepat reformasi birokrasi anggaran, memperkuat kapasitas daerah, dan memastikan belanja negara berjalan produktif. Investigasi Menkeu harus diikuti dengan langkah konkret, bukan sekadar retorika. Optimisme ekonomi tidak cukup dengan slogan—ia harus dibuktikan lewat belanja yang berdampak dan tepat sasaran.
Sikap Minako
Minakonews mendorong transparansi penuh dalam investigasi dana mengendap ini dan mendesak pemerintah untuk membuka data penyerapan anggaran secara berkala kepada publik.
Catatan Redaksi
Editorial ini disusun berdasarkan data resmi Kementerian Keuangan dan kutipan dari forum “Satu Tahun Prabowo–Gibran” serta analisis ekonom nasional.
Penulis : Minakonews/Al
Editor. : Red minakonews
