Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, kini menjadi sorotan publik setelah laporan JATAM mengungkap dugaan konflik kepentingan dalam jaringan bisnis tambang keluarganya. (Foto Dok. Minakonews/AI).
Ternate (Malut). MINAKONEWS –
Nama keluarga Tjoanda kembali menjadi sorotan setelah laporan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) mengungkap gurita bisnis tambang yang terhubung langsung dengan keluarga Laos–Tjoanda di Maluku Utara. Laporan bertajuk Konflik Kepentingan di Balik Gurita Bisnis Gubernur Maluku Utara menyoroti konsentrasi kepemilikan saham dan jabatan publik yang dinilai menimbulkan benturan kepentingan serius.
Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara, tercatat sebagai pemegang saham mayoritas PT Karya Wijaya (71%) sejak akhir 2024, menggantikan posisi mendiang suaminya Benny Laos. Tiga anak mereka masing-masing memiliki 8% saham. Sherly juga menjabat sebagai Direktur dan pemegang saham 25,5% di PT Bela Group, induk usaha keluarga Laos–Tjoanda yang mengendalikan sejumlah anak perusahaan tambang, termasuk PT Bela Sarana Permai, PT Amazing Tabara, PT Indonesia Mas Mulia, dan PT Bela Kencana.
Aktivitas perusahaan-perusahaan tersebut tersebar di Pulau Gebe, Obi, Halmahera, dan Bacan. JATAM mencatat dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkan, mulai dari pencemaran air, abrasi pantai, konflik lahan, hingga kriminalisasi warga. Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) bahkan tengah memverifikasi dugaan pelanggaran operasional PT Karya Wijaya di Pulau Gebe.
Kasus ini menimbulkan pertanyaan besar tentang integritas regulasi pertambangan di Maluku Utara. Publik menunggu langkah tegas aparat penegak hukum dan transparansi dari pemerintah daerah untuk memastikan tidak ada penyalahgunaan jabatan demi kepentingan bisnis keluarga.
Penulis: Dinno Veoline/Dur Mandala Putra
Editor. : Red. Minakonews.com
