Data produksi sawit nasional 58–59 juta ton, nilai ekspor USD 22,53 miliar, harga CPO global USD 1.050–1.150 per ton. Malaysia khawatir terhadap potensi gejolak harga akibat kebijakan ekspor terpusat RI. (Infografis: Minakonews/AI).
KUALA LUMPUR. MINAKONEWS –
Rencana pemerintah Indonesia memusatkan ekspor komoditas strategis, termasuk minyak sawit mentah (CPO), melalui satu lembaga negara memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri sawit Malaysia. Mereka menilai kebijakan ini dapat mengubah arus perdagangan global dan memicu fluktuasi harga minyak nabati dunia.
Direktur Utama Malaysian Palm Oil Board (MPOB) Ahmad Parveez Ghulam Kadir menyebut perubahan mekanisme ekspor di Indonesia berpotensi menimbulkan keterlambatan pengiriman dan ketidakpastian pasar. Sementara Direktur Eksekutif Malaysian Palm Oil Association (MPOA) Roslin Azmy Hassan menilai pasar global akan menghadapi tekanan harga jangka pendek, meski Malaysia bisa mengambil peluang dari stabilitas sistem ekspornya.
Data menunjukkan Indonesia masih menjadi produsen dan eksportir sawit terbesar dunia dengan produksi mencapai 58–59 juta ton pada 2026 dan nilai ekspor sekitar USD 22,53 miliar. Harga CPO global saat ini berada di kisaran USD 1.050–1.150 per ton, menjadikan kebijakan ekspor terpusat berpotensi memengaruhi pembentukan harga di pasar internasional.
Kebijakan ini dijadwalkan berjalan penuh pada September 2026 sebagai bagian dari strategi pemerintah memperkuat devisa hasil ekspor (DHE) dan memastikan tata kelola komoditas nasional lebih terintegrasi.
Penulis: Dinno Veoline
Editor. : Red. Minakonews.com


