Infografis: 129 tewas, 86 hilang, 110.616 jiwa mengungsi akibat banjir bandang dan longsor di Sumbar, November 2025 (Infografik: DV/AI).
Padang (Sumbar). MINAKONEWS.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan pemerintah tetap serius menangani dampak banjir bandang dan longsor di Sumbar. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto sebelumnya menyebut kondisi bencana “terlihat ngeri di media sosial, namun setelah dicek tidak separah itu.” Pernyataan tersebut menuai sorotan publik, sehingga BNPB menambahkan klarifikasi bahwa maksudnya adalah membandingkan persepsi di dunia maya dengan hasil verifikasi lapangan, bukan meremehkan penderitaan warga.
Sorotan Publik
Sejumlah media nasional menyoroti pernyataan ini. iNews.id menulis banjir Sumatra “kelihatan mencekam di medsos,” Viva.co.id menyoroti alasan belum ditetapkan sebagai bencana nasional, Detik.com mengaitkan dengan video viral penjarahan di Sibolga, sementara Pikiran Rakyat menekankan reaksi masyarakat yang menilai pernyataan tersebut kontroversial. Publik menafsirkan kutipan itu sebagai perbandingan persepsi daring dengan kondisi lapangan, namun tetap menuntut perhatian penuh terhadap penderitaan warga.
Data Terbaru BPBD Sumbar
– 129 orang meninggal dunia
– 86 orang masih hilang
– 110.616 jiwa atau 19.360 KK mengungsi
– Kabupaten Agam paling terdampak: 87 meninggal, 76 hilang
– Kota Padang: 10 korban meninggal, 18.000 lebih warga mengungsi
– Padang Panjang juga terdampak, data terus diperbarui
Kronologi Bencana
Hujan deras sejak pertengahan November menyebabkan sungai meluap, membawa material kayu dan lumpur ke permukiman. Gelombang banjir bandang menghantam rumah warga, jalan, dan jembatan. Ribuan orang terpaksa mengungsi ke lokasi aman.
Langkah BNPB dan Pemerintah Daerah
BNPB bersama pemerintah daerah menyalurkan bantuan logistik berupa makanan, selimut, dan obat-obatan. Tim gabungan TNI, Polri, dan relawan dikerahkan untuk evakuasi serta pencarian korban. Relokasi sementara bagi warga terdampak dipersiapkan, sementara pendataan kerusakan rumah dan fasilitas umum dilakukan untuk mempercepat rehabilitasi.
Suara Warga
“Air datang sangat cepat, membawa kayu besar. Kami hanya bisa lari menyelamatkan diri,” ungkap seorang pengungsi di Padang Panjang. Warga berharap pemerintah mempercepat bantuan nyata di lapangan, bukan sekadar klarifikasi.
Analisis dan Harapan
Pernyataan Kepala BNPB yang menyinggung “ngeri di medsos” menjadi pelajaran penting tentang komunikasi publik di tengah bencana. Meski maksudnya membandingkan persepsi dengan fakta lapangan, sensitivitas masyarakat harus tetap dijaga. Harapan warga kini tertuju pada percepatan rehabilitasi, penegakan hukum terhadap pembalakan liar, serta langkah pencegahan agar bencana serupa tidak berulang.
Penulis: Dinno Veoline
Editor. : Red. Minakonews.com
