Dialog pendidikan di Kepulauan Mentawai. (Foto Dok. Humas).
Mentawai (Sumbar), MINAKONEWS – Pendidikan di Kepulauan Mentawai masih menghadapi tantangan mendasar: keterbatasan akses dan kualitas. Kondisi geografis yang sulit dijangkau membuat banyak anak kesulitan melanjutkan sekolah, sehingga jumlah siswa di tingkat SMK rata-rata hanya 40–50 orang per angkatan.
Solusi yang dianggap paling mendesak adalah penyediaan asrama siswa. Dengan adanya asrama, anak-anak dari wilayah terpencil dapat tinggal lebih dekat ke sekolah, sehingga akses pendidikan tidak lagi menjadi hambatan utama.
Selain persoalan jumlah siswa, kualitas lulusan juga menjadi perhatian. Banyak lulusan SMK belum sepenuhnya siap kerja karena keterbatasan praktik, peralatan, dan keterkaitan dengan dunia usaha. Untuk itu, penguatan link and match antara SMK dan industri menjadi agenda penting, termasuk membuka peluang kerja ke luar negeri melalui sertifikasi keterampilan dan penguasaan bahasa asing.
Sebagai tindak lanjut, dukungan awal telah diberikan berupa satu unit mobil operasional untuk praktik otomotif dan satu unit mesin cuci untuk jurusan perhotelan di SMK Negeri 1 Kepulauan Mentawai. Pemerintah juga memfasilitasi penyediaan listrik untuk gedung asrama serta menjembatani kerja sama magang siswa ke sektor perhotelan di Kota Padang.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Mentawai menegaskan bahwa asrama adalah penunjang utama keberlangsungan pendidikan. Dukungan akomodasi dan akses jalan akan terus diperkuat agar siswa memiliki kesempatan belajar yang lebih baik.
SMK Negeri 1 Kepulauan Mentawai saat ini membuka empat program keahlian strategis: otomotif, agribisnis, perikanan, dan perhotelan. Namun sekolah masih menghadapi keterbatasan sarana, jumlah siswa, dan pembiayaan. Penyediaan asrama diharapkan menjadi fondasi utama untuk memperluas akses sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan vokasi di Mentawai.
Penulis: Halimah Tusa’diah
Editor. : Red. Minakonews.com


