HANI 2026: Luka yang Menguatkan, Harapan yang Menolak Padam

Oleh Halimah Tusa’diah

Pagi itu, Padang seperti menyimpan napasnya sendiri. Di halaman BNNP Sumbar, orang-orang datang bukan hanya untuk menghadiri peringatan HANI — mereka datang membawa luka yang selama ini mereka sembunyikan dari dunia.

Seorang ibu berdiri di pinggir kerumunan, memegang ujung selendangnya erat seolah itu satu-satunya yang membuatnya tetap kuat. Ia tidak menangis, tapi matanya menyimpan malam-malam panjang ketika ia menunggu suara pintu dibuka, berharap anaknya pulang dalam keadaan utuh. “Saya cuma ingin rumah saya damai lagi,” katanya pelan. Kalimat sederhana, tapi terasa seperti serpihan hati yang sudah terlalu sering direkatkan.

Tak jauh dari sana, seorang remaja laki-laki menggenggam brosur sampai kusut. Ketika ditanya, suaranya pecah. “Kawan saya… dia nggak sempat sembuh.” Ia berhenti, menelan getir yang sudah lama ia tahan. “Makanya saya datang. Biar nggak ada lagi yang hilang begitu saja.” Kata-katanya menggantung, seperti luka yang belum kering.

Saat Maigus Nasir naik ke podium, suasana mendadak hening. Bukan karena formalitas, tapi karena setiap kalimatnya seperti menyentuh titik rapuh yang dimiliki semua orang di sana. Ia bicara tentang keluarga yang retak, tentang anak-anak yang kehilangan arah, tentang orang tua yang kehilangan pegangan. Banyak yang menunduk — bukan karena bosan, tapi karena mereka pernah berada di titik itu.

Namun di tengah semua cerita yang berat itu, ada cahaya kecil yang muncul. Seorang relawan muda tersenyum sambil membagikan masker. Senyumnya hangat, meski matanya menyimpan kisah yang tidak ia ucapkan. “Saya pernah hampir kehilangan adik saya,” katanya. “Hari ini saya berdiri di sini karena saya percaya orang bisa berubah. Keluarga bisa sembuh. Hidup bisa mulai lagi.”

Dan di situlah harapan itu tumbuh — bukan dari panggung, bukan dari spanduk, tapi dari orang-orang yang datang dengan luka, lalu memilih untuk tidak menyerah.

HANI 2026 hari itu bukan sekadar peringatan. Ia menjadi ruang di mana orang-orang saling menguatkan, saling mengingatkan bahwa mereka tidak sendirian. Bahwa meski narkoba telah merenggut banyak hal, masih ada kesempatan untuk memperbaiki, untuk memulai ulang, untuk menjaga generasi berikutnya agar tidak jatuh di tempat yang sama.

Ketika acara selesai, langkah-langkah pulang terasa lebih ringan. Bukan karena masalah mereka hilang, tapi karena mereka tahu satu hal:
harapan tidak pernah padam — ia hanya menunggu seseorang berani menyalakannya kembali.

Penulis : Halimah Tusa’diah

Editor. : Red minakonews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *