Kampus Membungkam Gagasan Mahasiswa, Tiyo Jadi Simbol Perlawanan

Tiyo Ardianto, mahasiswa Filsafat asal Kudus, terpilih sebagai Ketua BEM KM UGM periode 2025–2026. Ia menyerukan semangat persatuan dan persaudaraan di tengah dinamika kampus. “3 bukan lagi Tiyo Ardianto, 3 adalah Persatuan Indonesia,” ujarnya (Dok. Ist).

Semarang (Jateng). MINAKONEWS –
Diskusi kebebasan berekspresi yang dijadwalkan di Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada 23 Mei 2026 mendadak dibatalkan oleh birokrat kampus. Alasan resmi menyebutkan bahwa Tiyo Ardianto sudah tidak lagi menjabat sebagai Ketua BEM UGM. Namun, Tiyo menilai keputusan itu sebagai bentuk pembungkaman gagasan mahasiswa.

Menurutnya, status jabatan tidak relevan dengan hak berbicara di ruang akademik. Kampus, tegasnya, seharusnya menjadi ruang bebas gagasan, bukan dikekang oleh birokrasi.

BEM Unnes bersama Aliansi Mahasiswa Unnes mengecam pembatalan tersebut. Mereka menilai tindakan kampus mencederai demokrasi dan kebebasan akademik, serta memperlihatkan lemahnya komitmen perguruan tinggi terhadap kebebasan berekspresi.

Kasus ini memperlihatkan pergeseran isu dari kritik kebijakan Makan Bergizi Gratis menuju demokrasi kampus. Tekanan terhadap mahasiswa justru memperkuat energi perlawanan, menjadikan Tiyo simbol baru dalam gerakan kebebasan akademik.

Penulis: Halimah Tusa’diah/Dur Mandala Putra/Dinno Veoline
Editor. : Red. Minakonews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *