Prof. Dr. Primadona Sebagai Guru Besar PNP, Tekankan Social Capital Minangkabau Dalam Era Digital UMKM

Prof. Dr. Primadona dikukuhkan sebagai Guru Besar PNP, tekankan social capital Minangkabau dalam transformasi digital UMKM (Foto Dok. Minakonews/AI).

Padang (Sumbar). MINAKONEWS – Pengukuhan Prof. Dr. Primadona, S.E., M.Si., CRP sebagai Guru Besar bidang Kewirausahaan di Politeknik Negeri Padang (PNP) menjadi momentum penting bagi penguatan kajian UMKM berbasis social capital Minangkabau di era transformasi digital.

Dalam pidato pengukuhan, Prof. Primadona menegaskan bahwa keberhasilan banyak pengusaha Minang tidak dapat dilepaskan dari nilai budaya seperti kepercayaan, jaringan kekerabatan, solidaritas, budaya merantau, serta semangat kolektif dalam membangun usaha. “Modal sosial adalah aset tidak berwujud yang mampu meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam memperoleh informasi bisnis, memperluas jaringan pemasaran, membangun kolaborasi, hingga meningkatkan akses terhadap sumber daya ekonomi,” ujar Prof. Primadona.

Perjalanan akademik dimulai dari S1 Manajemen Universitas Andalas (1997), S2 Ekonomi Perencanaan Pembangunan Universitas Andalas (2008), hingga S3 Ilmu Ekonomi (Manajemen) Universitas Andalas (2017). Sejak 2004, ia aktif mengajar di PNP dengan mata kuliah utama seperti Pengantar Manajemen, Kewirausahaan, Etika Bisnis, Perbankan, Negosiasi Bisnis, Metodologi Penelitian, dan Perilaku Konsumen Pariwisata.

Penelitian terbaru yang dipimpin Prof. Primadona antara lain digitalisasi UMKM kerajinan sulaman dan bordir di Sumbar (2023), resilience UMKM di daerah bencana (2022), serta implementasi modal sosial pada wirausaha etnis Minang (2021). Karya ilmiah internasionalnya mencakup Entrepreneurial Experience for Entrepreneurial Success in Ethnic Minang Entrepreneurs Indonesia (2025), The impact of entrepreneurial orientation on business performance (2025), dan The Effect of Entrepreneurship Education on Student Entrepreneurship Motivation (2024).

Selain itu, Prof. Primadona aktif dalam pengabdian masyarakat, seperti pembinaan Desa Tabek Patah menuju desa wisata (2024), usaha bumbu Mandhe di Batusangkar (2023), dan Desa Wisata Tungkal Selatan menghadapi pandemi Covid-19 (2020). Ia menegaskan bahwa digitalisasi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang bagaimana nilai sosial dan budaya lokal tetap hidup dalam ruang digital. “Jika kekuatan budaya Minangkabau dipadukan dengan literasi digital dan inovasi teknologi, maka UMKM berbasis budaya lokal dapat menjadi motor penggerak ekonomi masa depan,” katanya.

Penulis: d®amlis/Dinno Veoline
Editor. : Red. Minakonews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *