Warga Pulau Enggano terpaksa membuang hasil panen pisang ke laut akibat terhentinya kapal perintis dan lumpuhnya distribusi logistik. Situasi ini menggambarkan dampak nyata krisis pangan yang melanda pulau terluar Bengkulu.(Foto Dok. Ist.).
Bengkulu. MINAKONEWS – Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, tengah menghadapi krisis pangan serius sejak awal April 2025. Lebih dari 4.000 jiwa terisolasi akibat kapal perintis berhenti beroperasi karena pendangkalan alur Pelabuhan Pulau Baai. Kondisi ini membuat distribusi logistik lumpuh total, harga kebutuhan pokok melonjak, dan warga hanya bertahan dengan ikan kering serta ubi sebagai pengganti nasi.
Data lapangan mencatat harga bawang naik dari Rp25 ribu menjadi Rp70 ribu/kg, minyak goreng dari Rp26 ribu/liter melonjak tajam, sementara pisang 30 ton membusuk dan 80 persen hasil tangkapan ikan tidak laku. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp500 juta per minggu.
Pemerintah daerah bersama Pemprov Bengkulu telah menyalurkan 32 ton beras cadangan pemerintah (BCP) dalam dua tahap menggunakan kapal nelayan. Namun, kapasitas terbatas membuat distribusi tidak mencukupi kebutuhan harian warga. Anak-anak, ibu hamil, dan lansia menjadi kelompok paling rentan dalam krisis ini.
Pengerukan alur pelabuhan oleh Pelindo II masih berlangsung, tetapi lambat sehingga kapal perintis belum bisa kembali beroperasi. DPRD Bengkulu mendesak percepatan pengerukan agar jalur logistik segera normal.
Masyarakat sipil menyerukan Qunut Nazilah dalam setiap salat sebagai doa tolak bala, sekaligus menggalang bantuan melalui Baznas, ACT, dan relawan lokal. Seruan publik juga diarahkan kepada pemerintah pusat agar lebih sigap menangani krisis di pulau terluar ini.
Pulau Enggano kini menjadi simbol rapuhnya akses logistik di daerah terluar Indonesia. Tanpa solusi cepat, krisis pangan berpotensi berulang dan mengancam keberlangsungan hidup ribuan warga.
Penulis: Dur Mandala Putra
Editor. : d®amlis


