Rupiah Anjlok, Ribuan Pekerja Tersapu Gelombang PHK

LRibuan pekerja tersapu gelombang PHK (Ilustrasi: Minakonews/AI).

Padang (Sumbar). MINAKONEWS –
Rupiah yang terjun bebas hingga menembus Rp17.500 per dolar AS memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor industri. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat lebih dari 8.389 pekerja terdampak hingga April 2026, dengan tren meningkat pada Mei.

Biaya impor bahan baku yang melonjak membuat perusahaan padat karya seperti tekstil, garmen, dan alas kaki melakukan efisiensi besar-besaran. PT Pan Brothers Tbk dan PT Kahatex mengurangi tenaga kerja akibat pesanan ekspor menurun. PT Nikomas Gemilang, pemasok alas kaki global, memangkas produksi karena permintaan dari Amerika dan Eropa melemah. PT Sepatu Bata Tbk menutup sebagian lini produksi untuk menekan biaya operasional.

Distribusi PHK menunjukkan sektor tekstil dan garmen paling terpukul dengan sekitar 2.500 pekerja terdampak, disusul alas kaki 1.300 pekerja, manufaktur 900 pekerja, serta teknologi dan jasa sekitar 700 pekerja. Gelombang PHK ini menekan daya beli masyarakat dan memperlambat konsumsi domestik. Serikat pekerja menilai target penciptaan 19 juta lapangan kerja era Prabowo–Gibran masih jauh dari realisasi.

Bank Indonesia terus melakukan intervensi pasar valas untuk menjaga stabilitas rupiah, sementara pemerintah menyiapkan program perlindungan sosial dan pelatihan ulang bagi pekerja terdampak. Gelombang PHK juga langsung menghantam konsumsi rumah tangga. Banyak keluarga kehilangan sumber pendapatan utama, sehingga daya beli menurun drastis. Keluarga terdampak mengurangi belanja makanan bergizi, beralih ke produk lebih murah, bahkan kesulitan membayar biaya pendidikan dan layanan kesehatan.

Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk meredam dampak PHK massal, mulai dari bansos tunai, subsidi pangan, bantuan pendidikan, hingga pelatihan ulang tenaga kerja. Insentif fiskal juga ditawarkan bagi perusahaan yang mampu mempertahankan tenaga kerja. Sementara itu, Bank Indonesia memperkuat intervensi moneter untuk menjaga stabilitas rupiah.

Fenomena ini menjadi alarm bagi sektor padat karya nasional. Diversifikasi bahan baku dan penguatan daya saing ekspor menjadi langkah mendesak agar industri tidak terjebak dalam spiral efisiensi berkepanjangan.

Penulis: Dur Mandala Putra
Editor. : Red. Minakonews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *