Tiyo Ardianto, mahasiswa Filsafat UGM asal Kudus, dikenal vokal dan independen. Dari mosi tak percaya hingga surat ke UNICEF, ia menegaskan marwah mahasiswa sebagai suara rakyat (Infografis: Minakonews/AI).
Yogyakaera (DIY). MINAKONEWS –
Tiyo Ardianto, mahasiswa Filsafat asal Kudus, Jawa Tengah, dikenal sebagai sosok vokal dan independen dalam gerakan mahasiswa. Ia menjabat sebagai Ketua BEM KM UGM periode 2025–2026 dengan kabinet bertajuk Transformasi.
Sejak awal kepemimpinannya, Tiyo menegaskan pentingnya marwah organisasi mahasiswa agar berpihak pada rakyat. Rekam jejaknya menunjukkan konsistensi dalam mengkritisi kebijakan publik dan memperjuangkan kebebasan akademik.
Pada Mei 2025, Tiyo memimpin mosi tidak percaya terhadap Rektor UGM Ova Emilia, menyoroti transparansi kebijakan kampus. Juli 2025, ia mengumumkan BEM KM UGM keluar dari aliansi BEM SI Kerakyatan, dengan alasan menjaga independensi gerakan mahasiswa.
Februari 2026, Tiyo mengirim surat resmi ke UNICEF menyoroti kasus bunuh diri siswa SD di NTT dan mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) senilai Rp335 triliun yang menyedot Rp223 triliun dari anggaran pendidikan. Aksi ini memicu teror digital berupa ancaman penculikan dan fitnah terhadap keluarganya.
Meski mendapat tekanan, Tiyo tetap aktif menyuarakan isu kebebasan berekspresi. Puncaknya, ia menolak pembatalan diskusi di Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada 23 Mei 2026, menyebutnya sebagai bentuk pembungkaman gagasan mahasiswa.
Dengan rekam jejak tersebut, Tiyo kini dipandang sebagai simbol perlawanan mahasiswa terhadap pembatasan ruang demokrasi kampus.
Penulis: Halimah Tusa’diah/Dur Mandala Putra/Dinno Veoline
Editor. : Red. Minakonews.com


