Indeks

Tutupan Hutan Sumbar Menyusut, Banjir Bandang Padang Jadi Bukti Krisis Ekologis

Tutupan hutan Sumbar menyusut dari 1,85 juta ha (2021) menjadi 1,72 juta ha (2025). Diagram batang ini menegaskan penurunan konsisten yang berkontribusi pada banjir bandang dan tumpukan kayu gelondongan di Pantai Padang (Infografik: DV/AI).

Padang (Sumbar). MINAKONEWS.COM – Banjir bandang yang melanda Sumbar pada akhir November 2025 meninggalkan jejak dramatis: ribuan kayu gelondongan menumpuk di sepanjang Pantai Padang. Fenomena ini memicu sorotan publik terhadap dugaan pembalakan liar dan lemahnya pengawasan tata kelola hutan.

Data Kementerian Kehutanan menunjukkan tutupan hutan Sumbar terus menyusut dari 1,85 juta hektare pada 2021 menjadi hanya 1,72 juta hektare pada 2025. Penurunan konsisten ini memperlihatkan deforestasi sistematis, bukan sekadar pohon tumbang alami. WALHI Sumbar mencatat kehilangan sekitar 32 ribu hektare hutan sepanjang 2024, menilai Pemprov ikut bertanggung jawab atas krisis ekologis ini.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan banjir besar di Sumatera adalah akibat tata kelola lingkungan yang salah, termasuk ekspansi industri dan penebangan liar. DPR RI dan organisasi lingkungan mendesak audit menyeluruh terhadap izin alih fungsi lahan di Sumbar.

Di sisi lain, Pemkot Padang sempat menyebut kayu hanyut hanya akibat pohon tumbang alami. Namun investigasi WALHI dengan citra satelit menemukan pola penebangan sistematis di hulu DAS Aia Dingin, membantah klaim tersebut.

Penurunan tajam tutupan hutan pada 2024–2025 memperlihatkan lemahnya pengawasan dan dampak deforestasi terhadap banjir bandang. Publik menilai pemerintah daerah abai dalam menjaga tata kelola hutan, sehingga bencana ekologis semakin sulit dihindari.

Penulis: Dinno Veoline
Editor. : Red. Minakonews.com