Indeks

Yuli Yetri : Ilmuwan Kakao, Pemimpin Riset, dan Penggerak Perubahan

Prof. Dr. Yuli Yetri, M.Si.(Foto : FA).

Padang (Sumbar), MINAKONEWS.COM – Di dunia akademik, nama Prof. Dr. Yuli Yetri, M.Si. bukan sekadar dikenal — ia dihormati. Lahir di Padang pada 6 Juli 1963, beliau menempuh pendidikan S1 di bidang Kimia di Universitas Andalas, melanjutkan S2 Material Science di Universitas Indonesia, dan meraih gelar Doktor di bidang Material Chemistry dari almamaternya, Unand. Tapi gelar bukanlah puncak — bagi Prof. Yuli, itu adalah titik awal untuk berkarya.

Sejak tahun 1989, beliau mengabdi sebagai dosen di Departemen Teknik Mesin, Politeknik Negeri Padang. Namun peran beliau jauh melampaui ruang kelas. Sejak 2015, ia menjabat sebagai Wakil Direktur Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, memimpin berbagai program strategis yang menjembatani kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Yang membuat Prof. Yuli istimewa adalah fokus risetnya yang unik: kulit buah kakao. Dari limbah pertanian yang sering diabaikan, ia berhasil menciptakan inovasi luar biasa — mulai dari inhibitor korosi, elektroda superkapasitor, biosorben logam berat, hingga bahan dasar baterai lithium-ion. Hasil risetnya telah menghasilkan lebih dari 10 paten granted, termasuk desain industri seperti mesin pencacah jagung dan alat bending baja.

Tak hanya di laboratorium, Prof. Yuli aktif di panggung internasional. Ia telah menjadi keynote speaker dan presenter di lebih dari 20 konferensi internasional — dari Tokyo Denki University hingga Bangkok, dari India hingga Malaysia. Ia juga menjalin kolaborasi riset dengan berbagai institusi luar negeri, termasuk Fukuoka Institute of Technology dan Universiti Malaysia Terengganu.

Publikasi ilmiahnya pun mengesankan: lebih dari 40 artikel di jurnal bereputasi Q1–Q4 dan SINTA, sebagai penulis utama maupun koresponden. Ia juga menjadi editor jurnal teknik dan katalisator, membuktikan kepemimpinannya dalam dunia akademik.

Di luar laboratorium dan konferensi, Prof. Yuli tetap hadir untuk masyarakat. Ia memimpin berbagai program pengabdian — membangun jembatan desa, melatih hidroponik, mengelola bank sampah, hingga memberi pelatihan keterampilan di pesantren dan sekolah. Semua itu dilakukan dengan semangat yang sama: ilmu harus berdampak.

Penghargaan demi penghargaan pun datang: Best Lecturer, Best Presenter, Best Research, dan berbagai kompetisi nasional maupun internasional. Tapi bagi Prof. Yuli, pencapaian terbesar adalah ketika risetnya bisa menjawab masalah nyata. “Ilmu itu harus berguna, bukan hanya dipublikasikan,” ujarnya suatu kali.

Prof. Yuli Yetri adalah sosok yang membuktikan bahwa inovasi bisa lahir dari kesederhanaan. Bahwa limbah bisa jadi solusi, dan bahwa perempuan bisa memimpin perubahan — dengan ketekunan, keberanian, dan hati yang tak pernah lelah berbagi.(FA).

Penulis. : FA

Editor. : Red minakonews